Norma Kepemimpinan dalam Masyarakat Adat Sasak

Wawancara esklusif: Andi – Ketua Lembaga Adat Desa Teruwai

Penulis pada suatu kesempatan mendapatkan kesempatan mewawancarai Andi, Ketua Lembaga Adat Desa Teruwai, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Budayawan muda ini dikenal memiliki kiprah pada berbagai proses adat Sasak di deaerahnya sebagai seorang pembayun sejak tahun 1999, bahkan pula dalam beberapa kesempatan di Kota Mataram. Pada hari itu, hal yang dibicarakan adalah konsep kepemimpinan dalam masyarakat adat Sasak dalam perspektif diakronis dan dikaitkan dengan kondisi kekinian.

Sebagai pertanyaan pembuka, penulis menanyakan tentang siapakah yang disebut pemimpin di masyarakat Sasak. Andi mengajak untuk melihat struktur organisasi masyarakat paling bawah hari ini, yaitu kekadusan, sebagai sistem organisasi kemasyarakat yang ada di tingkat dusun sebagai aras paling dekat dengan kehidupan keseharian masyarakat.

Dapat dikatakan bahwa masyarakat Sasak sebenarnya telah memiliki norma yang jelas dalam menentukan seorang  Pemimpin.  Seorang pemimpin harus menunjukkan kemaskulinan dan kefeminimannya dalam menjalankan amanahnya. Keduanya, ia menambahkan, di zaman dahulu bisa ditemukan dalam satu sosok mulia di masyarakat Sasak, “Pengulu Alim “.

Selanjutnya, Andi mengakui bahwa di era sekarang ini, dimana laju pertumbuhan masyarakat menjadi semakin tinggi maka akan sulit sekali dua peranan ini dilakukan oleh satu orang . Untuk itu, maka dibagilah kedua karakteristik ini kepada dua peran, yakni peran keliang/kadus (pengatur urusan kemasyarakatan) dengan karakter maskulinnya dan peran kiyai (pengatur game adat) yang menonjolkan karakter Feminim. Peran kadus mempunyai tanggung jawab dengan ruang lingkup yang luas sedangkan kiyai dengan ruang lingkup yang lebih kecil atau khusus.

Lebih jauh lagi, Ketua Lembaga Adat Desa Teruwai ini juga menjelaskan kriteria seorang pemimpin bagi masyarakat Sasak sejatinya kuat kaitannya dengan simbol 8 mangse atau delapan edar nage, atau timuq, ebat, lauq, daye (timur, barat, selatan, dan utara) dan kiri , kanan, atas, bawaq (kiri, kanan, atas, dan bawah). Andi menjelaskannya dengan singkat, sebagai berikut:

1. Timuq: dadi Suluh minangke damar – kemampuan menerangi fitrah manusia

2. Ebat: patuh Lan  iling maring ubaye – kemampuan menghadapi arus perubahan

3. Lauq: lurus Tan pendah Kadi ampan – pemimpin itu harus lurus

4. Daye: dadi wong agung Tan lali wong alit – orang besar mengayomi orang kecil (pelindung)

Sementara 4 arah mata angin lainnya, yaitu kiri, kanan, atas , dan bawaq tercermin dalam 4 hal, yaitu:

  • Amuyungin wong kepanasan – memayungi orang kepanasan
  • Anitisin wong kelaran-laran – merawat orang yang terlunta lunta
  • Angrurubi Yen ane mati wong tanpe kadang – mengkafani jenazah tanpa keluarga
  • Weruh sekatahing rahasianing kaule – mengetahui segala unsur masyarakatnya

Wawancara yang dilaksanakan pada malam ke-24 Bulan Ramadhan 1442 Hijriyah itu berakhir menjelang tengah malam menyisakan harapan besar akan terus lestarinya kebudayaan Sasak di tangan generasi muda.

Penulis: Amaq Deang

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *