MEMAHAMI KEMALIQ LINGSAR SEBAGAI CIKAL BAKAL TAMAN LINGSAR

Kemaliq Lingsar merupakan salah satu situs cagar budaya yang ada di Lombok tepatnya di Jl Gora 2, Desa Lingsar, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. kawasan ini merupakan kawasan yang di keramatkan oleh suku Sasak, dikarenakan terdapat sebuah mata air yang diyakini sebagai tempat hilangnya moksa atau seorang penyiar Agama Islam wetu Telu yang bernama Raden Mas Sumilir dari Kerajaan Medayin. Masyarakat Sasak menyebut mata air ini dengan nama kemaliq yang berasal dari kata maliq yang memiliki arti keramat atau suci.

Bagi masyarakat Sasak, kemaliq memiliki makna yang sangat sentral. Bukan hanya bagi diri pribagi tetapi juga kehidupan sosial. Selain itu masyarakat sasak memandang kemaliq sebagi satu kesatuan penanda kehidupan di gumi paer (tanah air). Penanda-penanda inilah yang merepresentasi ekpresi energi kosmos pada suatu ruang dan meneruskan gelombang energi titik pusat, yaitu Rinjani. Dalam hal ini bisa dilihat keberadaan Gunung Raden dan Gunung Tunaq di pantai selatan, Kemaliq Batu Dendeng, Kemaliq Gunung Sasak, Kemaliq Lingsar, Sumur Banyurip, Sumur Batu Peropok, Kemaliq Gunung Nap-Nap, Kemaliq Batu Bongkok, Legenda Anak Iwoq, Mitologi Dewi Anjani, Legenda Mandalika, dan banyak lagi yang tersebar di seluruh Pulau Lombok.

Secara kosmologis kemaliq merupakan penanda energi yang berasal dari Gunung Rinjani. Sehingga secara fisik kita melihat berupa tempat mata air. Mata air ini berguna untuk dapat menghidupi masyarakat sekitarnya baik untuk kebutuhan kehidupan sehari-hari dan pengairan sawah. Karena pentingnya kemaliq (sumber mata air) ini masyarakat sangat mengkramatkannya, hal ini bertujuan agar tidak dirusak oleh masyarakat.

Akan tetapi, pada tahun 1759, pada masa pemerintahan Raja Ketut Anglurah Karangasem Singosari membangun Pura di sekitar Kemaliq ini, namun nama tersebut diganti menjadi Taman Lingsar setelah sang Raja membangun kembali pura tersebut pada akhir abad XIX. Sebelum di bangun menjadi sebuah taman, Kemudian pada awal abad ke-17, Rombongan warga Bali datang ke Pulau Lombok untuk pertama kalinya. Rombongan ini berasal dari Kerajaan Karangasem sebanyak kurang lebih 80 orang dan mendarat di pantai Barat dekat Gunung Pengsong, Lombok Barat. Dari Gunung Pengsong perjalanan di lanjutkan hingga menuju ke Punikan. Namun di daerah Punikan rombongan merasa haus dan lapar sehingga memutuskan untuk beristirahat sejenak. Mereka mendengar ada suara aliran air yang begitu deras dan mencari sumber mata air tersebut. Sumber mata air tersebut berupa Ai’ mual atau kemaliq yang dikeramatkan oleh orang Sasak pada saat itu. Segala cara dilakukan oleh penguasa Bali saat itu untuk dapat menguasai mata air/Kemaliq tersebut. Dari cara yang paling halus yaitu dengan memberikan penanda bangunan berupa pure disekitarnya, agar pada tahap selanjutnya kemaliq ini akan diklaim menjadi mata air bagian dari pure.

Masyarakat Sasak pada era tersebut merupakan masyarakat sufistik yang dikenal dengan Islam wetu telu. Mereka sangat percaya segala sesuatu yang terdapat di bumi merupakan pemberian Allah SWT, yang harus dijaga sebaik-baiknya dan digunakan untuk kemaslahatan manusia. Dengan ketulusan dan kerendahan hati mereka, mereka tidak pernah melarang Raja Bali yang pada saat itu menginvasi Lombok untuk membangun pure di sekitar kemaliq, dengan harapan agar kerukunan hidup tetap terjaga, mereka berprinsip “sopoq jakne tulak jok sak sekek” artinya: Kita berasal dari yang satu dan akan kembali kepada yang satu. Filosfi memiliki makna yang sangat mendalam bagi setiap para pemegang Islam pada saat itu. Hidup di dunia ini hanya persinggahan belaka tidak ada yang perlu dibanggakan atau disombongkan karena semua adalah pemberian Deside Allah SWT.

Kemaliq Lingsar, Saat ini berada di dalam komplek Taman Lingsar, padahal dahulu Kemaliq ini berada agak jauh dari Pura Lingsar

Ketulusan dan kesadaran makhlukat ini terus dibangun pada diri individu Sasak pada saat itu. Kedamaian dan toleransi hidup antara masyarakat Sasak dan para pendatang di Pulau Lombok ini dapat kita rasakan hingga saat ini. Tetapi mengapa sampai saat ini masyarakat Sasak yang selalu cinta damai ini, selalu dianggap sebagai masyarakat terjajah dan terpinggirkan oleh para pendatang itu. Ketulusan hidup kadang salah diartikan oleh orang lain.

Untuk dapat memahami permasalahan tersebut dapat kita buat analogi sederhana sebagai berikut:

Si A memiliki rumah strategis di pinggir jalan, Si B datang memohon untuk diberikan sedikit tempat untuk berjualan di depan rumahnya. Karena merasa kasihan dan melihat kegigihan bekerja Si B, akhirnya Si A memberikan Si B untuk berjualan dengan catatan sluruh peralatan jualan baik itu rombong yang digunakan maupun sampah yang dihasilkan dari jualan tersebut untuk di bawa pulang, agar halaman rumah Si A tetap kelihatan bersih. Si B tentunya setuju dengan kesepakatan tersebut dan mulai berjualan. Setelah beberapa lama jualan, ternyata Si B mengalami kesuksesan dan terkadang Ia harus menutup jualannya sampai tengah malam, dan pada saat musim hujanpun tiba Si B, merasa kerepotan harus mendorong grobak kembali ke rumahnya. Akhirnya Si B meminta ijin kepada Si A, agar gerobak yang digunakannya bisa dititip didalam pagar rumah dan ia berjanji akan mengatur posisi yang baik, sehingga rumah kelihatan tetap bersih dan rapi. Mendengar alasan yang diungkapkan Si B, Si A merasa tersentuh rasa kemanusiannya dan memberikan izin. Hal tersebut berlaku begitu cukup lama, selanjutnya Si B kembali minta ijin kepada Si A untuk memberikan keluarganya berjualan di sebelahnya, kebaikan hati Si A tak terkira karena senang melihat orang bekerja keras, Si A memberikan ijin kepada keluarga Si B, seiring berjalannya waktu Si B, mulai membawa keluarganya dari desa untuk berjualan di sekitar jalan komplek rumah SI A sehingga lorong jalan tersebut, dipenuhi oleh sanak saudara SI B, berjualan setiap harinya. Pada suatu waktu meninggallah SI A, sehingga anak dari Si A meminta agar Si B berhenti jualan disekitar rumahnya, karena anaknya tersebut juga akan memulai usahanya, akan tetapi Si B tidak mau karena merasa dia sudah memiliki tempat tersebut dan merasa dia sudah memiliki banyak saudara disana yang akan membantu ia melawan anak Si A, sehingga ia meminta ganti rugi jika harus diusir dari tempat itu. Keributanpun tak dapat dielakkan. Ternyata Si B, tidak tau diri bahwa atas kebaikan Si A ia dapat berjualan disana, Si B tak mau thau dengan berbagai macam cara ia ingin menguasai tempat tersebut.

Jika kita mencari kemaliq Lingsar kita tidak akan menemukan penanda tempatnya, yang kita temukan hanya penanda seperti gambar tersebut diatas.

Dari analogi di atas kita dapat memahami secara sederhana mengapa Pura Lingsar yang sekarang menjadi Taman Lingsar menjadi pemilik lahan dari Kemaliq Lingsar, yang dahulunya ada di situ dan menjadi tempat yang disakralkan bagi masyarakat Sasak.

Kita selalu disuguhkan berbagai bacaan bahwa Kemaliq Lingsar ditemukan oleh orang Bali yang menginvasi Lombok pada saat itu, padahal jika kita ingin masuk lebih dalam untuk mencari sumber terpercaya dan membaca sedikit lebih banyak kita akan menyadari mengapa Taman Lingsar tersebut berada di Area Seputar Kemaliq Lingsar.

Tulisan sederhana ini kami sajikan sabagai bahan diskusi untuk semua pembaca agar melihat lebih detail tentang keberadaan sesuatu yang menjadi tempat yang disakralkan oleh masyarakat lokal, agar terbuka wawasan kita untuk menggali lebih dalam sumber terpercaya, bukan hanya sumber yang disajikan dimedia daring, yang dapat ditulis oleh siapapun yang tingkat kebenarannya terus dipertanyakan.

Wallahua’lam bissowab.

(Niken Diyah Ayu Lukitosari & Muhammaf Zainul Firdaus)

Referensi:

https://amp.kompas.com/edukasi/read/2011/07/20/08003141/di.pura.lingsar.mereka.bersatu .( Diakses pada 30 Desember 2019 pukul 10.30 WITA)

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditpcbm/bukti-kerukunan-di-taman-lingsar-lombok-barat .( Diakses pada  30 Desember 2019 pukul 10.30 WITA)

https://lombokbaratkab.go.id/sejarah-singkat-pura-lingsar/amp . (Diakses pada 30 Desember 2019 pukul 10.30 WITA)

Buku Kosmologi Sasak: Risalah Inen Paer. Karya Lalu Agus Fathurrahman. Penerbit Genius. 2016. Mataram Lombok.

Sumber Foto:

https://www.google.com/search?q=kemaliq+lingsar&safe=strict&sxsrf=ACYBGNSs2RDTWcCNw6OfvH3ui6gKYCpP5g:1579022476414&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=2ahUKEwip7rGOzYPnAhXVZSsKHY4vDFcQ_AUoAnoECBAQBA&biw=1024&bih=450#imgrc=62W7VQVmv5brwM:

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *