MAKAM KRAMAT GAPUK DASAN AGUNG

Seperti makam lainnya di wilayah Mataram, makam yang satu ini adalah makam yang masih diselimuti misteri yang kuat hingga sulit untuk melacak keberadaan sosok yang dimakamkan di pojok sebelah kiri mimbar Masjid Attaqrim yang berada di Jalan Gunung Pengsong, Gapuk, Kelurahan Dasan Agung, Kecamatan Selaparang, Mataram. Beberapa tokoh setempat yang berhasil ditemui mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui persis siapa dan dari mana jasad yang dimakamkan di sana. Cerita yang beredar di masyarakat cenderung terkesan misterius dan mistik.

Menurut H. Ridwan (63th) awalnya tempat itu hanyalah sebuah langgar sebagai tempat beribadah warga. Namun, salah seorang tetua mereka waktu itu, yang bernama H. Umar, berinisiatif untuk membuat kolam tempat berwudu. Saat menggali lokasi pembangunan, ia bersama warga menemukan sebuah kerangka kepala manusia. Dari bekas kerangka itu mengalir air yang menjadi sumber air kolam. Kerangka itu lalu dikuburkan di tempat yang sekarang masih terpelihara. Beberapa hari kemudian, H.Umar berubah pikiran. Ia mempertimbangkan jika suatu saat nanti jamaah telah semakin banyak, maka posisi makam akan menjadi masalah untuk pengembangan langgar. H. umar lalu bermusyawarah dengan warga untuk memindahkan kerangka tersebut ke Pemakaman Bintaro. Pada hari yang telah disepakati, mereka lalu membawa kerangka itu ke Bintaro. Sekembalinya dari Bintaro di tengah perjalan H. Umar ditangkap oleh aparat keamanan selama seminggu lamanya, tanpa tahu kesalahannya. Pada suatu malam di dalam penjara, dalam mimpinya ia didatangi oleh seseorang yang mengatakan bahwa jika ia ingin keluar dari penjara, maka ia harus mengembalikan kerangka dari Pemakaman Bintaro ke lokasi semula. Keesokan harinya, ketika istrinya datang menjenguk, ia lalu menceritakan mimpinya itu. Isterinya kemudian menceritakan mimpi suaminya ke warga Dasan Gapuk. Hari itu juga warga Gapuk memindahkan kerangka kepala itu ke tempat semula. Saat itu juga H. Umar dikeluarkan dari penjara tanpa ada pemeriksaan.

Masih menurut H. Ridwan, nama muda H. Umar adalah Ayub, yang merupakan sahabat baik Guru Bangkol atau Lalu Ismail – seorang tokoh perlawan Perang Praya II 1891M. Mereka sering saling mengunjungi baik di Gapuk atau di Praya. H. Umar adalah kakek buyut dari H. Ridwan. Berdasarkan penuturan H. Ridwan, diperkirakan kerangka yang dimakamkan di lokasi tersebut sudah lama berada di sana, diperkirakan sebelum abad ke-XIX atau abad keXVIII.

Masjid Attqrim Gapuk dalam tahap renovasi

Cerita lain yang diungkap oleh Mustafa (54thn) Kepala Lingkungan Gapuk. Ia menuturkan bahwa ada salah seorang warga Kampung Gapuk bernama Bakrun (almarhum) yang hendak berangkat menjadi tenaga kerja ke Malaysia pada kisaran tahun 1980an. Sebelum berangkat, Bakrun membawa segenggam tanah yang diambil dari Makam Kramat Gapuk. Tidak diceritakan lamanya ia berada di atas sebuah perahu yang rencananya akan menuju Malaysia. Namun, sampai suatu malam, ia beserta temantemannya diturunkan di suatu tempat yang asing. Anehnya, ia sempat mendengar percakapan warga setempat yang fasih berbahasa Sasak. Keesokan harinya, ia menemui salah seorang penduduk untuk menanyai nama tempat itu. Warga tu menjawab bahwa ia sedang berada di wilayah Desa Obel-Obel. Saat itu ia sadar bahwa selama ini perahu yang ditumpanginya hanya berputar-putar mengitari Pulau Lombok. Sekembalinya ke Dasan Agung, ia lalu mengembalikan tanah yang ia telah ambil sebelumnya dari makam kramat itu.

Sedangkan menurut penuturan ketua panitia pembangunan Masjid Attaqrim, H. Marzuki (51thn) suatu saat pernah seseorang yang bernama Saleh (cucu dari TGH. Ahmad, Karang Panas) bertandang ke rumahnya. Ia menceritakan bahwa suatu malam ia bertemu dengan seseorang dalam  mimpinya, ia mengaku berasal dari negeri jauh bernama si fulan dan tinggal di makam Masjid Attaqrim Gapuk. Saleh kemudian menceritakan mimpinya kepada H. Marzuki. Beberapa hari kemudian H. Marzuki membuat plang nama di pintu masuk makam. Berselang semalam, Saleh datang lagi ke rumah H. Marzuki menceritakan bahwa semalam pemilik makam itu datang melarangnya untuk menuliskan namanya di pintu masuk makam tersebut.

Selanjutnya, ketika dilakukan renovasi masjid di tahun 1994, terjadi insiden kecelakaan yang menimpa salah seorang tukang bangunan masjid yang menyebabkan  menelan korban satu jiwa. Pada renovasi selanjutnya, menjelang akhir 2017, juga terjadi insiden kecelakaan yang menelan dua korban jiwa warga Gapuk. Konon, para korban tidak meminta izin terlebih dahulu pada saat akan memperbaiki salah satu bagian masjid yang akan diperbaiki. Salah seorang tukang, pada awal bulan Januari 2018, setelah membongkar galian untuk salah satu tiang pilar masjid dengan sedikit acuh dan kurang mengindahkan kedalaman galian yang telah disepakat. Sewaktu hendak pulang dari lokasi pembangunan, ia mengalami kejadian aneh ketika mengendarai kendaraannya. Badannya tiba-tiba terdindih motornya sendiri. Padahal, motornya itu belum dinyalakan mesinnya. Ia bercerita bahwa ada kekuatan ane yang mendorongnya hingga terjatuh. Malamnya, ia didatangi oleh seseorang yang menyarankan agar ia menggali lubang pondasi lebih dalam. Keesokan paginya, ia mendatangi pengurus masjid untuk menceritakan kejadian tersebut dan meminta izin untuk tidak ikut dalam pengerjaan masjid itu. Selain cerita-cerita tersebut di atas, masih banyak lagi cerita-cerita mistis yang beredar di kalangan warga sekitar masjid, baik yang dilihat oleh warga setempat maupun orang luar Gapuk.

Hingga saat ini, tidak ada yang mengetahui persis identitas orang yang dimakamkan di Makam Kramat yang berada dalam area Masjid Attaqrim Gapuk. Menurut para narasumber bahwa orang yang sering muncul secara misterius dalam mimpi warga adalah penjaga gaib dari makam tersebut.

Makam Kramat Gapuk tampak dari dalam

H. Marzuki menuturkan bahwa orang-orang yang sering datang berziarah ke makam kramat tersebut berasal dari Lombok Timur dan Lombok Tengah. Kebanyakan mereka datang karena didatangi dalam mimpi untuk berziarah ke makam kramat tersebut. Motivasi mereka datang berziarah biasanya untuk mengambil syarat (bhs Sasak. media/sarana) berupa air yang diyakini bisa menjadi obat. Kunjungan terpadat biasanya pada hari-hari besar, seperti Idhul Fitri, Idhul Adha, dan pada malam Jum’at. Biasanya, masyarakat sekitar masjid berzikir di lokasi Makam Kramat. Masih menurut H. Marzuki, penggantian batu nisan Makam Kramat tidak pernah dilakukan sejak pertama kali ditemukannya kerangka. Setiap kali direncanakan penggantian batu nisan, selalu terjadi kejadian aneh yang dialami oleh warga, baik yang didatangi dalam mimpi maupun isyarat-isyarat langsung yang dipahami sebagai larangan bagi warga untuk mengganti batu nisan tersebut. Wallahu ‘a’lamu bissawaab.

Sumber: Buku Cagar Budaya Kota Mataram. Tim Penyusun. 2018. Pemerintah Kota Mataram.

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *