MAKAM SAYYID ALI ALKAF

Komplek makam Sayyid Ali Al-Kaf Bin Sayyid Abdurrahman Al-Kaf terletak di area depan mimbar Masjid Qubbatul Islam Seganteng yang berada di Jalan Brawijaya, Kelurahan Seganteng, Kecamatan Cakranegara Selatan. Situs ini mendapatkan status sebagai tempat yang dilestarikan.

Makam Syaikh Ali Alkaf terletak di dalam Komplek Masjid Qubbatul Islam Seganteng

Bersebelahan dengan Makam Sayyid Ali Al-Kaf, terdapat juga makam-makam beberapa figur lainnya, yaitu TGH. Mustafa, Sayyid Ahmad Mullahela Ampenan, makam dua bersaudara TGH. Hasan dan TGH. Husain. Menurut Mamiq Jagat, tokoh masyarakat Seganteng, Sayyid Abdurrahman Al-Kaf berasal dari Timur Tengah, tepatnya di Kota Tarim (Yaman) dan meninggal di Singapura. Dari Tarim, ia berhijrah ke India selatan, menikahi seorang wanita Singapura, dan dalam perjalanannya ke Lombok sempat singgah di Palembang dan Jawa Barat. Tahun 1800an Masehi, ia kemudian diperkirakan pindah ke Lombok dan menikahi seorang perempuan Seganteng. Dari perkawinan ini kemudian melahirkan Sayyid Ali Al-Kaf.

Senada dengan Mamiq Jagat, Ali Sahbana (41) dan Husain Al-Kaf (42) yang merupakan cicit buyut dari sayyid Ali Al-Kaf yang tinggal di Seganteng membenarkan bahwa Sayyid Ali Al-Kaf lahir di Seganteng pada tahun 1859M dan meninggal 1949M, seperti termuat dalam buku silsilah dan merunut angka tahun yang tertera pada batu nisannya.

Penggantian batu nisan dilakukan pada tahun 2005, namun khusus pada Makam Sayyid Ali Al-Kaf yang dilakukan oleh keluarga besar Sayyid Ali Al-Kaf, baik yang berdomisili atau menetap di Seganteng, Ampenan, Papak Lombok Utara, Gerung Lombok Barat, Mantang Lombok Tengah serta masyarakat Seganteng.

Sayyid Ali Al-Kaf adalah sosok ulama yang sangat terkenal pada eranya. Ia banyak melahirkan ulama-ulama besar, seperti TGH. Saleh Hambali (Bengkel), TGH. Mutawalli (Jerowaru), dua bersaudara TGH Izzuddin dan TGH. Salehuddin (Tembilok, Bengkel) serta beberapa tokoh ulama besar lainnya. Semasa hidupnya, ia mengabdikan dirinya di jalan dakwah dengan berkeliling dari kampung ke kampung di wilayah Lombok dan membuka pengajian di Masjid Seganteng. Selain berdakwah, ia juga seorang tabib dan pedagang kain.

Salah satu karomahnya diceritakan ketika ia hendak melintasi Sungai Babak. Ia bertanya kepada salah seorang warga di sekitar tempat itu tentang dalamnya Sungai Babak yang dijawab oleh warga bahwa sungai itu dangkal. Namun, ketika ia berada di tengah sungai, Sungai Babak ternyata sangat dalam sehingga beberapa lembar pakaian dagangan yang ia taruh di punggung kudanya hanyut terbawa airSetelah berhasil melewati Sungai Babak, tidak lama kemudian air besar datang membanjiri wilayah rumah dan kampung-kampung yang berada di sepanjang sisi SungaBabak. Luapan air sungai itu membuat warga terkejut sehingga mereka berlarian sambil berteriak, “Belabur Kokoq Babak” luapan air sungai di Lombok. Entah pesan apa yang ingin disampaikan lewat ungkapan dan kejadian banjir tersebut.

Cerita lain yang berkembang di masyarakat tentang Sungai Babak dan Sayyid Ali Al-Kaf berkaitan dengan kejadian berulang gagalnya pembangunan jembatan penghubung kedua tepian sungai, yang bahkan menelan korban jiwa. Masyarakat kemudian berinisiatif menjemput Sayyid Ali Al-Kaf untuk meminta doa keselamatan pembangunan jembatan tersebut. Masyarakat percaya bahwa dengan karomah dapat membantu proses pembangunan. Setibanya di Sungai Babak, ia hanya sekedar berdiam diri di pinggiran sungai kemudian kembali pulang. Setelah itu, pelaksanaan pembangunan jembatan berjalan dengan baik tanpa ada kesulitan.

Makam TGH Hasan dan TGH Husain, masih didalam komplek Masjid Seganteng

Keberadaan Makam Sayyid Ali Al-Kaf daya tarik bagi peziarah. Pada perayaan Lebaran Topat yang bertepatan dengan hari ke-7 setelah Hari Raya Idul Fitri, Makam Sayyid Ali Al-Kaf biasanya dibanjiri oleh peziarah yangdatang dari dalam dan luar Lombok. Mereka membaca doa-doa, kitab Albarzanji, dan manakib Sayyid Ali Al-Kaf di area Masjid Qubbatul Islam. Peninggalannya yang masih tersisa berupa kitab-kitab fikih dan tasawuf, dengan kondisi sampul telah robek. Beberapa di antara kitab tersebut disimpan oleh keluarga dan murid-muridnya yang tersebar di Palembang, Jakarta, Solo, Madura, Banjarmasin, Manado,

dan beberapa daerah lainnya di Indonesia.

Bersebelahan dengan Makam Sayyid Ali Al-Kaf terdapat Makam TGH. Mustafa. Ia diyakini oleh masyarakat sebagai seorang waliyullah. Tokoh ini disebut-sebut berasal dari Baghdad dan berhijrah ke Nusantara, yaitu pada awalnya menuju Bali, tepatnya di wilayah Tabanan, Buleleng, dan Karangasem. Pada saat itu, TGH. Mustafa adalah seorang yang sangat diperhitungkan oleh para petinggi-petinggi kerajaan di Bali karena ia menguasai banyak hal.

Sebuah kisah menceritakan tentang bagaimana TGH. Mustafa diikutsertakan dalam suatu rombongan yang hendak datang ke Lombok yang dipimpin oleh salah seorang saudara dari Anak Agung Karangasem Bali. Konon, tujuan perjalanan itu adalah untuk berkunjung ke Danau Segara Anak di Gunung Rinjani. Sebelum naik Rinjani, Tuan Guru Mustafa berkhalwat selama tiga hari. Dalam khalwatnya, ia mendapatkan petunjuk bahwa jika Anak Agung naik ke Gunung Rinjani, maka akan terjadi sesuatu yang sangat merugikannya. Mendengar penuturan Tuan Guru Mustafa, Anak Agung menjadi bimbang apakah terus melanjutkan keinginannya. Ia kemudian meminta pertimbangan kepada TGH. Mustafa tentang apa yang mesti ia lakukan. Tuan Guru Mustafa kembali berkhalwat untuk meminta petunjuk kepada Yang Mahakuasa. Dalam khalwatnya kali ini, ia mendapatkan petunjuk bahwa Anak Agung disarankan membuat sebuah taman kecil yang di dalamnya menyerupai kondisi alam Gunung Rinjani. Maka, dibangunlah sebuah taman yang saat ini kita kenal dengan nama Taman Narmada yang berada di Kabupaten Lombok Barat. Barulah kemudian Anak Agung merasa lega karena setiap hari ia bisa duduk memandang tiruan Danau Segara Anak di komplek taman yang dibangunnya. TGH. Mustafa juga dibuatkan rumah tempat penginapan di sebelah barat taman yang dinamakan Jabal Rahmah dan sebuah rumah yang dinamai Baitul Muqaddis agar ia bisa mendampingi Anak Agung yang rumah panggungnya disebut Balai Terang, yang berada di sebelah timur dan berhadapan langsung dengan taman air mancur dan sebuah sumur mata air (yang kini dikenal sebagai sumber air awet muda). Sumber air inilah yang kemudian menjadi sumber air kolam pemandian yang ada saat ini.

Beberapa hari kemudian, Anak Agung Ketut Karangasem hendak mengunjungi saudaranya di Cakra, tetapi sebelum sampai di tujuan, tiba-tiba saja kuda-kuda rombongan Anak Agung berhenti dan tidak mau berjalan sehingga Tuan Guru Mustafa juga ikut berhenti dan turun dari kudanya untuk mencari tahu penyebabnya. Namun, setelah turun dari kudanya, tiba-tiba semua kuda rombongan serentak bergerak cepat meninggalkannya di tempat itu, yang sekarang bernama Seganteng. Demikianlah TGH. Mustafa tertinggal sendirian di Seganteng. Merasa nyaman dan betah tinggal di lokasi itu, keesokan harinya ia mengajak orang-orang yang tinggal di sekitar wilayah itu untuk menggali sumur dan membangun Masjid Seganteng. Dalam menjalankan syiar Islam, ia senantiasa mengajak setiap orang untuk mendirikan sholat dan beramal soleh. TGH. Mustafa diperkirakan wafat sekitar tahun 1800an Masehi dan dimakamkan di barat mimbar Masjid Seganteng, berdampingan dengan Makam Sayyid Ali AlKaf.

Di sebelah selatan Makam Sayyid Ali Al-Kaf dan TGH. Mustafa terdapat juga tiga makam lainnya, yaitu Makam TGH. Sayyid Ahmad Mullahela dan makam dua bersaudara TGH. Hasan dan TGH. Husain. Diperkirakan makam bersaudara inilah yang paling awal menempati pemakaman, sebelum berdirinya Masjid Qubbatul Islam Seganteng. Tidak banyak informasi yang dapat digali tentang sosok ketiga tokoh tersebut. Menurut para sesepuh Seganteng, ketiganya tidak begitu dikenal, dari mana asal muasalnya.

Konon, Seganteng pada zaman dulu adalah salah satu kampung tempat diinapkannya para pepadu (bhs sasak: petarung) pilih tanding yang berasal dari desa-desa atau dusun-dusun di Lombok. Menurut Mamiq Jagat, kata seganteng berasal dari kata ‘se’ (bhs Sasak. se atau saq berarti satu) dan gantang (bhs Sasak. wadah beras) yang mengalami proses morfologis menjadi ‘segantang’ yang artinya satu takah atau satu takaran beras. Dalam perjalan waktu, kata tersebut mengalami perubahan bunyi menjadi ‘seganteng’.

Sumber: Buku Cagar Budaya Kota Mataram. Tim Penyusun. 2018. Pemerintah Kota Mataram.

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *