MAKAM LOWANG BALOQ

Makam Lowang Baloq berlokasi di Jalan Lingkar Selatan, Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Situs ini telah ditetapkan sebagai salah satu situs cagar budaya Kota Mataram.

Jamali (60), yang merupakan salah seorang dari generasi ketujuh yang menjadi penjaga makam Lowang Baloq, menceritakan bahwa orang yang dimakamkan di Lowang Baloq adalah Syeikh Gaoz Sayyid Abdurrazak, salah satu wali yang berasal dari Timur Tengah. Ia berangkat bersama beberapa temannya, yakni Syeikh Gaoz Sayyid Umar, Syeikh Gaoz Sayyid Abdurrahman, Syeikh Gaoz Sayyid Abdul Gafur, Syeikh Gaoz Wali Nyata (Nyatok), Syaikh Gaoz Sayyid Malik dan Syaikh Wali Ngelamun (lembar). Sebelum Syeikh Gaoz Sayyid Abdurrazak dan temannya mendarat di Pulau Lombok, mereka terlebih dahulu singgah di Pulau Sumatera, Jawa, dan Bali.

Pelataran depan Makam Loang Baloq

Dalam perjalanannya, perahu yang mereka tumpangi diceritakan mengalami musibah yang diakibatkan oleh badai di tengah lautan yang memaksa mereka terdampar ke daratan. Syeikh Gaoz Sayyid Abdurrazak didampingi oleh Datoq Laut (kemungkinan orang Melayu), kemudian terdampar di Labuhan Carik (Bayan). Di Lombok Utara (Bayan), ia dikenal dengan julukan “Pengodong Udang” (penangkap udang) yang hasil tangkapannya dijual oleh Datuq Laut. Ia juga pernah mampir di Dompu (Kemungkinan sebelum gunung Tambora meletus) dan kembali lagi ke Lombok.

Masih menurut Jamali, ia pernah mendengar cerita dari TGH. Muhammad Tohri, salah seorang tetua di Sekarbela, yang pernah menceritakan kisah makam ini berdasarkan penuturan pendahulunya, TGH. Muhammad Rais (1855 – 1967 M). Dikisahkan bahwa makam ini awalnya berada di sekitar Pesinggahan. Makam itu adalah makam Syaikh Gaoz Sayyid Abdurrazak. Karena terjadinya sebuah peristiwa, oleh penguasa pada waktu itu, makam ini kemudian dipindahkan ke lokasi Lowang Baloq hari ini, yang dilakukan bersama-sama antara warga Sekarbela, warga Pejarakan Rembiga, dan warga kampung sekitar lainnya.

Catatan ini menunjukkan bahwa keberadaan makam ini telah ada jauh sebelum kurun masa hidup TGH.Muhammad Rais dan telah ramai dikunjungi oleh masyarakat Sasak se-Pulau Lombok. Tentang warga Pejarakan dan Sekarbela yang ikut dalam proses pemindahan makam, kemungkinan karena ada keterkaitan secara garis pengaruh.

Setiap harinya, Makam Lowang Baloq nyaris tidak pernah sepi dari para pengunjung yang berasal dari berbagai daerah di Pulau Lombok. Bahkan, ada yang sengaja datang dari luar pulau dengan berbagai maksud dan tujuan. Ada yang datang karena nazar, ada yang datang karena garis ilmu, ada yang datang menjelang berangkat menunaikan ibadah haji, dan ada pula yang datang dengan maksud untuk memeroleh berkah (tabarruk). Seperti halnya Amaq Ita yang berangkat dari Dusun Sangiang, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur yang berhasil ditanyai saat dijumpai tengah berkunjung ke Makam Lowang Baloq. Ia menuturkan bahwa dirinya sudah beberapa kali mengunjungi situs ini dengan maksud bermunajat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan membawa harapan agar segala niat dan urusannya akan dikabulkan dan tidak mengalami halangan serta gangguan dalam usahanya. Beginilah salah satu potret yang menggambarkan makna keberadaan makam bagi masyarakat.

Suasana di dalam Makam Luang Baloq

Ritual dan tata cara ziarah sangat tergantung pada maksud dan tujuan kedatangannya. Ada yang melaksanakan rowah (zikir) diluar bangunan makam, biasanya dilanjutkan dilanjutkan dengan tradisi makan-makan. Ada yang melakukan ritual wirid dan ada yang sekedar berdoa di dalam bangunan makam. Untuk keperluan rowah tersebut, para peziarah biasanya menggunakan bangunan khusus, yaitu sebuah bangunan terbuka yang disebut oleh masyarakat Sasak sebagai bale jajar (salah satu arsitektur vernakular Sasak).

komplek Makam Lowang Baloq dibangun oleh Dinas Pariwisata atas permintaan TGH. Muhammad Tohri (Salah seorang tokoh masyarakat penggisi – pemelihara makam) pada tahun 1996 – 1997, yang kemudian pada tahun 2015, dipugar untuk kedua kalinya secara swadaya oleh Masyarakat.

Di sebelah barat Makam Syeikh Gaoz Sayyid Abdurrazak terdapat bangunan berdinding kayu dengan jendela kaca yang di dalamnya terdapat batu nisan. Menurut keyakinan penunggu makam dan masyarakat yang pernah berkunjung, batu-batu nisan itu adalah batu nisan yang dikenal sebagai Makam Anak Iwoq (makam anak yatim piatu). Masih di sekitar area makam, di sebelah utara dan selatan tembok makam terdapat dua pemakaman umum yang dipergunakan sebagai komplek pemakaman oleh masyarakat Tanjung Karang, Sembalun Mapak, dan masyarakat sekitarnya.

Sumber: Buku Cagar Budaya Kota Mataram. Tim Penyusun. 2018. Pemerintah Kota Mataram.

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *