Sangkep Warige Putuskan Hari Bau Nyale, MAS: Momentum Kenalkan Asal Penamaan Mandalika ke Dunia Internasional

(Sabtu, 7/1/2022) Ketua BP MAS, Lalu Bayu Windia menghadiri rangkaian kegiatan pra Bau Nyale yang dilangsungkan selama tiga hari (6-8 Januari 2022). Bayu menjelaskan tahun ini, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah menggunakan pendekatan berbeda dalam penentuan tanggal Bau Nyale. MAS hadir di hari Jum’at dan Sabtu. Di Kamis dan Jum’at, kita telah melakukan pengumpulan pendapat dari para pelaku budaya sebagai usulan yang kemudian diumumkan di hari Sabtu tadi. Tadi, H. Lalu Suhardi, B.E., Wali Paer Tengaq sekaligus Ketua Majelis Krame Adat Lombok Tengah yang hadir. Berdasarkan hasil sangkep, Bau Nyale akan dilaksanakan pada hari Ahad dan Senin atau tangggal 20 dan 21 Februari 2022.

Pemangku adat dikumpulkan di hari pertama Sangkep Warige

Festival Bau Nyale sangat erat kaitannya dengan nama Putri Mandalika, cerita rakyat yang berkembang di Pulau Lombok. Bayu mengingatkan, momentum Bau Nyale tahun ini adalah saat yang tepat bagi pemerintah untuk memperkenalkan asal usul penamaan sirkuit Mandalika yang akan menggelar MotoGP di bulan Maret nanti. Mungkin masyarakat internasional bertanya-tanya, dari mana nama sirkuit itu ya. Nah, dengan kemeriahan gelaran Bau Nyale di tahun ini, masyarakat dunia akan memahami bahwa Mandalika ternyata adalah figur seorang putri jelita yang melegenda di masyarakat Sasak, khususnya di masyarakat selatan. Wajar saja Mandalika menjadi begitu populer sekarang karena namanya diambil dari seorang primadona, pungkasnya.

Hari kedua rangkaian sangkep warige

Di tempat berbeda, peneliti sistem penanggalan Sasak, Dr. Lalu Ari Irawan menyebut Bau Nyale sebagai salah satu simpul sistem pengetahuan tradisional masyarakat Sasak. Keberadaan cerita ini menunjukkan betapa arifnya leluhur Sasak yang menggunakan sastra pada masanya sebagai media transformasi pengetahuan. Jadi, selain Mandalika digambarkan sebagai figur yang cantik, substansi yang kita dapatkan adalah pernyataan sang putri menunjukkan bahwa masyarakat Sasak pada masa itu telah mengenal sistem astronomi tradisional yang membuat mereka mampu menandai waktu untuk merayakan suatu peristiwa. Bahkan dari cerita itu kita dapat memahami musim yang kemudian bisa dihubungkan dengan pola tanam dan pola sosiologis yang ada di tengah masyarakat. Hal ini bahkan pernah membuat seorang peneliti dari Jepang sengaja datang untuk mempelajarinya. Belum lagi banyak ilmuan dalam negeri juga tertarik menulis tentang khasanah kebudayaan ini.

Keputusan sangkep, 20-21 Februari 2022 sebagai puncak Bau Nyale

Selain Wali Paer Tengaq, pada hari Sabtu, kegiatan Sangkep Warige dihadiri oleh Wakil Bupati Lombok Tengah, Komandan Kodim 1620 Lombok Tengah, Kepala Kepolisian Resor Lombok Tengah, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Lombok Tengah, Badan Pelestarian Nilai Budaya Daerah Bali, Kepala Stasiun TVRI NTB, dan hadirin lainnya. Hasil sangkep selama dua hari sebelumnya kemudian diumumkan secara resmi sebagai pedoman agenda kegiatan kepariwisataan yang juga telah termasuk dalam kalender event nasional Kementerian Pariwisata (ial).

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *