Mengenal Sosok Kiyai Orong Kolo dari Desa Kidang

Jumarap nama aslinya, namun oleh banyak orang ia dikenal dengan sebutan Kiyai Ratna. Pria yang lahir 50 tahun silam ini juga familiar dengan sebutan Kiyai Orong Kolo. Disebut seperti itu karena ia tinggal di Dusun Orong Kolo, sebuah dusun di Desa Kidang, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah. Ia sebenarnya ragu dengan usianya yang sudah setengah abad ini, berdasarkan keyakinannya, ia yakin dilahirkan sepuluh tahun sebelumnya, yaitu di tahun 1961.

Kiyai Ratna memegang Kalender Rowot Sasak 2021

Gelar kiyai mulai ia sandang  sejak tahun 1984, berbarengan dengan waktu pernikahannya. Pemberian gelar kiyai secara adat di Lombok lazimnya diberikan oleh warga setempat berdasarkan kesepakatan-kesepakatan masyarakat dengan mengacu pada penilaian para sesepuh komunitas yang kemudian dimusyawarahkan dan disepakati oleh warga. Namun, ada pula kiyai yang ditetapkan berdasarkan silsilah keluarganya. Hal yang kedua ini berlaku pada Kyai Ratna. Ia lahir dari keturunan para kiyai. Dimulai dari 7 generasi di atasnya,  yakni   Kiyai Pincang yang merupakan udhek-udhek (bahasa Jawa, dalam bahasa Sasak disebut gander) yang menjadi kiyai pada tahun 1732. Kemudian dilanjutkan oleh Kiyai Lian yang menjadi kiyai tahun 1771 yang merupakan anggas (KBBI, dalam Bahasa Sasak disebut toker) dari Kiyai Ratna. Gelar kiyai kemudian turun kepada piutnya (KBBI, dalam Bahasa Sasak disebut tate), 5 generasi di atas Kiyai Ratna, yang bernama Kiyai Mawe dan menjadi kiyai dari tahun 1814. Kyai Suraji yang merupakan cicitnya menjadi kiyai dari tahun 1847 dan dilanjutkan oleh Kiyai Jati sejak tahun 1891 yang merupakan kakeknya. Sebelumnya, ayahnya yang bernama Surahman juga menjadi Kiyai pada tahun 1947. Trah kiyai itu kemudian berlanjut padanya yang dinobatkan menjadi kiyai oleh masyarakat setempat pada tahun 1984 hingga sekarang.

Hadirin sidang tahunan penetapan Kalender Rowot Sasak
Sidang penetapan Kalender Rowot Sasak yang diadakan setiap tahun

Gelar kiyai di Lombok sangat berbeda dengan sebutan kiyai di Jawa karena merupakan gelar fungsional adat di masyarakat Sasak. Kiyai di Lombok merupakan gelar yang diamanatkan kepada orang yang secara genealogis memang mempunyai trah sebagai kiyai adat serta dianggap mampu membimbing masyarakat secara sosial. Di Lombok, seorang kiyai tidaklah harus tamat pendidikan di sekolah-sekolah agama, pun tidaklah orang yang fasih dalam hal bacaan Al Qurannya, tetapi memang orang yang secara simbolik memegang otoritas kosmos bagi masyarakat yang ia pimpin secara spiritual. Kiyai ini masih sangat berperan penting di beberapa komunitas di Pulau Lombok hingga hari ini. Otoritas seorang kiyai terbangun bukan berdasarkan wilayahnya secara geografis, melainkan secara kultural tradisi. Artinya, meskipun seseorang tidak menetap di desa yang sama dengan dirinya, ia dapat tetap mengandalkan peran kiyai di mana ia berasal.

Kiyai Ratna di kediamannya di Dusun Orong Kolo

Kiyai Orong Kolo juga memegang ilmu astronomi Sasak yang dikenal dengan ilmu warige, sebuah warisan dari para pendahulunya. Banyak sekali hal hal yang bisa kita pelajari dari ilmu ini termasuk tentang ilmu eder nage, ilmu satoqn taun atau karakter tahun berdasarkan perhitungan mangse yang akrab digunakan oleh masyarakat Sasak. Kiai Ratna memiliki ingatan yang sangat kuat tentang berbagai hal yang merupakan bagian dari tugasnya sebagai seorang kiyai. Beliau juga dalah salah satu penggagas penting lahirnya Kalender Rowot Sasak beserta 4 tokoh lainnya. Inilah karya beliau yang terdokumentasi secara gamblang. Namun sayangnya, banyak karya lainnya yang kurang terdokumentasi dengan baik. Hal-hal lainnya sangat banyak terutama tentang penetapan hari-hari baik masyarakat untuk mulai bercocok tanam dan angkat gawe atau memulai pesta pernikahan termasuk kapan penetapan tanggal bau nyale yang tidak luput dari perhatian beliau. Selain itu, ia juga berkontribusi dalam hal akademik, dimana ia cukup banyak berkontribusi dalam upaya pengkajian khasanah budaya Sasak. Beliau pernah dilibatkan dalam beberapa aktivitas akademik, seperti menjadi narasumber penelitian mahasiswa Ilmu Falaq UIN Mataram serta pernah juga menjadi narasumber ilmu astronomi Sasak di Museum daerah NTB. Kiai yang murah senyum ini selalu terbuka berbagi pengetahuannya kepada siapa saja.

Papan warige sebagai rekaman khasanah astronomis tradisional Sasak yang dimiliki Kiyai Ratna

Ada hal menarik saat bau nyale tahun ini. Pada hari Minggu (14 Maret 2021), penulis berkesempatan mewawancarai  tokoh ini dan secara khusus meminta pendapatnya tentang bau nyale yang terjadi awal Maret 2021 lalu. Menurutnya, kejadian bau nyale tahun ini terjadi perbedaan dan memang secara hitungan di kalender Rowot ini bisa terjadi sewindu sekali atau 8 tahun sekali, lebih tepatnya terjadi saat tahun Jumahir di perhitungan kalender Rowot. Bau nyale awal Maret kemarin memang sempat heboh atau viral kata generasi “Z”. Kenapa? Karena memang nyale ditemukan atau muncul lebih sering bahkan bisa ditemukan sampai 5 hari. Kejadian ini menurut hemat kiyai Ratna memang dikenal dengan nyale Roah atau nyale mencapai puncaknya pada tahun Jumahir. Nyale tahun jumahir atau disebut juga Nyale Roah sesuai dengan konsep masyarakat Sasak saat akan angkat gawe yaitu akan melewati 5 fase, yaitu Jelo bojak kubur, Jelo barak/menyilak, Jelo Jait, Jelo gawe, dan Jelo perebak jangkih. Maka penangkapan bau nyale pada tahun itu akan muncul lebih sering dan juga lebih banyak. Hal ini mengalami perputaran selama 8 tahun sekali menurut perhitungan kalender Rowot Sasak. Wallahualam bisawab.

Penulis : Amaq Deang

Editor : Edi Wiranata (Pemred lensa Mandalika)

Foto: penulis

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *