Merariq Kodeq dalam Perspektif Adat Sasak

Istilah “merariq kodeq” ini bermasalah karena menggunakan bahasa lokal suku tertentu, seakan-akan kasus itu hanya ditujukan pada suku tertentu tersebut.

DRS. LALU BAYU WINDIA, M.SI.KETUA BP MAJELIS ADAT SASAK

Penggunaan istilah “merariq kodeq” sebagai padanan dari frase “perkawinan usia anak” ini bermasalah dan bias karena menggunakan bahasa daerah suku tertentu, seakan-akan kasus itu hanya ditujukan pada suku tertentu tersebut. Mengapa tidak belajar dari nama virus yang sangat terkenal saat ini, Covid-19. Mengapa virus Covid 19 dinamakan seperti itu adalah untuk menghindari stigmatisasi pada bangsa atau binatang tertentu. Sebelumnya, virus-virus populer di jagad ini bernama : Black Dead karena orang kulit hitam yang pertama kali terjangkit. Ada flu babi, telah membuat masyarakat pemakan babi jadi tidak nyaman. Flu Onta, pun demikian. Binatang tunggangan populer kok jadi nama wabah. Maka, pemberian nama virus pun menjadi lebih bijaksana, NOVEL CORONA VIRUS 2019 (COVID 19). Semua bangsa-bangsa di dunia nyaman dengan nama virus ini. Bebas stigmatisasi terhadap bangsa tertentu, COVID 19. Tidak ada yang merasa sebagai penyebab. Sebenarnya, mula-mula COVID 19 ini akan bernama Virus Wuhan. Tapi urung.

Nah, nomenklatur “merariq kodeq” ini jelas menonjok komunitas tertentu, yaitu masyarakat Sasak. Tapi baiklah, bukan itu substansi yang mau ditulis. Tapi pada tuduhan bahwa “adat budaya” sebagai penyebab perkawinan usia anak. Itu jelas anggapan yang sangat dangkal. Observasi yang dilakukan Badan Pelaksana Majelis Adat Sasak (MAS) menemukan bahwa ternyata orang-orang Sasak pada zaman dulu, rata-rata usia pernikahannya cukup tinggi, rerata 25 tahun. Lalu, mengapa akhir-akhir ini terjadi perkawinan dalam usia muda? Ada pula survei sederhana dan spontan yang pernah dilakukan MAS terhadap pasangan “perkawinan usia muda” yang usia perkawinannya sudah mencapai lebih 5 tahun. Hasilnya, dominan mereka menjalani hidup bahagia dan langgeng. Dari 100 sampel yang disurvei, 3 orang saja yang hubungannya kandas di tengah jalan. Fakta ini mengungkap empat hal menonjol penyebab perkawinan usia muda, yaitu pola asuh, alasan ekonomi, faktor Pendidikan, dan MBA: Married by Accident atau kehamilan di luar nikah.

Cara penyelesaian adat terhadap kasus ” too young to be married” zaman dahulu adalah pasangan muda yang akan menikah dimediasi di kantor desa. Kepala desa akan mengajukan beberapa pertanyaan dan menelisik kedua calon mempelai. Pada umumnya, akan dilihat level kecakapannya untuk mandiri secara ekonomi. Bahasa Sasaknya kencaq, cekatan, cakap, dan terampil. Sebagai masyarakat agraris, pertanyaan paling umum adalah sejauh mana perempuan bisa mengerjakan pekerjaan di sawah. Begitu juga kepada calon mempelai laki-laki akan ditanyakan kecakapannya dalam bertani, mengurus ternak, dan kecakapan lainnya. Jika tidak bisa menjawab pertanyaan, maka mereka akan dipisahkan (tebelas). Masalahnya sekarang, institusi di desa atau dusun sudah banyak berubah. Kerja-kerja sosial seperti ini, jangan-jangan sudah dipandang tidak menarik lagi bagi aparatur di dusun atau desa sehingga abai dalam mengambil tanggung jawab. Langkah yang bisa diambil, terapkan sanksi kepada kepala dusun, kepala desa, atau pihak terkait yang membiarkan berlangsungnya kasus “too young to be married” ini. Peraturannya sudah jelas, tinggal dilaksanakan dengan baik.

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *