Medaq Api & Ngurisan

Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat dan canggih dan gempuran masuknya berbagai kebudayaan asing yang nyaris mendominasi seluruh sisi kehidupan masyarakat Indonesia, kita masih bisa tersenyum karena kita masih dapat menemukan masyarakat yang teguh menjalani ritual dan tradisi budayanya. Salah satunya ditemukan di masyarakat Sasak hari ini yang masih meneruskan tradisi warisan dari nenek moyangnya. Banyak tradisi Sasak yang masih hidup dan dijalankan hingga saat ini.

Salah satu tradisi yang unik dari masyarakat Sasak dan masih dilakukan hingga saat ini adalah tradisi ritual Medaq Api (medaq/meraq: mematikan; api: api). Tradisi ini sebenarnya adalah acara pemberian nama seorang bayi yang baru lahir. Ritual ini biasanya dilakukan pada hari ketujuh atau sembilan setelah sang bayi dilahirkan. Hal ini menandakan betapa “nama” adalah hal yang penting karena berkaitan dengan harapan dan do’a akan masa depan sang anak.

Prosesi Medaq Api

Dalam upacara Tradisi Medaq Api memang ada prosesi memadamkan api bersamaan dengan putusnya pusar bayi. Ritual ini pertama-tama dimulai dengan menyucikan ibu dan anak, kemudian mengambil api dari dapur, dan api selanjutnya dipadamkan di halaman rumah.

Setelah itu, bayi diayun-ayunkan di atas bara api yang baru dipadamkan yang diikuti kaum wanita, yang umumnya masih keluarga, mengelilingi api sambil mengibaskan bagian bawah pakaiannya untuk meniup asap hingga bara api itu padam.

Usai ritual ini, sang bayi kemudian diberikan nama yang kemudian diumumkan kepada para tetangga secara lisan. Rangkaian upacara ini diakhiri dengan selamatan atau syukuran yang dihadiri oleh para tokoh agama, tokoh masyarakat, tetangga dekat, keluarga, dan tamu undangan lainya.

Sedangkan tahap lanjutan dari tradisi menyambut kelahiran anak adalah acara ngurisan atau mencukur rambut bayi yang biasanya diselenggarakan saat anak berusia 7 bulan, hingga satu tahun. Umumnya dilaksanakan oleh beberapa anak pada bulan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan pemotongan rambutnya sendiri bisa dilakukan di rumah maupun di Masjid.

Tradisi Ngurisan

Selanjutnya, keluarga mengadakan selamatan dan rambut bayi yang dipotong itu kemudian ditanam di halaman rumah. Nah, keduanya adalah tradisi budaya luhur yang masih ditemukan dan masih dilestarikan di kalangan masyarakat adat Sasak. Namun, sayang sekali masih banyak yang beranggapan bahwa tradisi tersebut berhubungan dengan hal-hal mistis. Padahal sudah diketahui sejak lama bahwa masyarakat Sasak merupakan pemeluk agama Islam yang taat sejak dahulu kala.

Penulis: Abim Hasrul Syani (mahasiswa pascasarjana UNDIKMA)

Sumber foto: https://i.ytimg.com/vi/d1o_p2bEU58/maxresdefault.jpg

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *