Bebubus dan Bepopot: Pengobatan Khas Sasak

Khitanan merupakan suatu kewajiban bagi umat islam yang biasanya di lakukan ketika masih kecil antara umur 3-6 tahun akan tetapi pada saat sekarang ini banyak juga yang melakukannya ketika baru lahir dengan alasan kesehatan dan proses kesembuhannya diyakini lebih cepat.

Dua anak sedang bermain setelah selesai dikhitan

Bagi masyarakat Sasak, khitanan adalah suatu kewajiban keagamaan sekaligus diperkuat dengan berbagai ekspresi budaya. Namun, ketika akan melakukan sebuah acara khitanan, ada beberapa tradisi masyarakat Sasak yang biasanya dilakukan oleh orang-orang terdahulu dan masing bisa ditemukan hinggga saat ini, di antaranya adalah bebubus dan bepopot.

Bubus sebenarnya adalah sebuah ramuan obat yang dibentuk menjadi tablet yang telah diracik dengan mencampur berbagai jenis tanaman obat tradisional. Bubus terdiri dari berbagai jenis dan memiliki khasiat yang tergantung kemampuan peraciknya, seorang belian. Seorang peracik bubus biasanya hanya memiliki kemampuan meracik satu jenis bubus yang diwarisinya dari orang tuanya sehingga banyak masyarakat Sasak yang membuat bubus dengan tujuan menyembuhkan penyakit yang berbeda-beda.

Bubus merupakan salah satu budaya yang masih sering dilakukan oleh masyarakat Sasak, khususnya ketika akan melakukan acara khitanan anaknya. Tradisi ini biasanya dilakukan lebih kurang seminggu sebelum hari pelaksanaan khitanan. Bubus yang digunakan harus sama dengan yang pernah digunakan ketika anak tersebut baru lahir, karena menurut keyakinan masyarakat sasak ini bisa mempercepat kesembuhan dan memperlancar proses khitanannya.

Bepopot juga merupakan kebiasan yang dilakukan oleh masyarakat Sasak ketika mau mengadakan khitanan anaknya. Ini juga biasanya dilakukan kira-kira seminggu atau beberapa hari menjelang dilakukannya khitanan. Bepopot adalah pergi meminta do’a kepada seorang guru atau tokoh masyarakat yang dipercaya mempunyai do’a atau ilmu mujarab.

Masyarakat Sasak biasanya pergi ke tukang popot dengan tujuan agar anaknya semangat dan tidak takut untuk dikhitan. Tradisi bepopot ini masih banyak dilakukan oleh masyarakat Sasak dan mereka sangat yakin karena sudah terbukti pada anak-anak mereka.  Seperti yang terjadi pada salah satu warga di Lombok Timur. Semula, anaknya sangat takut untuk dikhitan atau disunat, bahkan orang tuanya sempat terpikir untuk membatalkan acara khitanan anaknya. Namun, setelah dibawa pergi bepopot ke salah satu guru atau tokoh masyarakat, sang anak langsung meminta ayahnya untuk segera melakukan acara khitanan. Pada saat keesokan harinya akan dilakukan khitanan, sang anak bangun jam 3 malam dan meminta orang tuanya untuk siap-siap pergi ke tempat khitanan, padahal acara khitanan baru akan di lakukan pada jam 7 pagi.

Penulis: Apipudin (Mahasiswa Pascasarjana UNDIKMA)

Foto: Ichal

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *