Tindih Sikap Dasar Manusia Sasak

Mungkin kita bertanya tentang bentuk dari sikap dan perilaku di suatu masyarakat, hal tersebut tidak sekonyong konyong terjadi dengan sendirinya. Ia bersumber dari suatu sistem nilai yang dianut oleh masyarakat. Pada suku bangsa sasak Lombok, nilai yang mendasari sikap dan perilaku anggota masyarakatnya, adalah “tindihTindih merupakan sikap taat azas, kokoh berpegang pada kebenaran yang diyakininya. Sikap berpegang teguh seperti ini pun ada istilahnya, yaitu : “nepih poger,” erat berpegang. Analoginya seperti ini, Ada seorang laki-laki yang harus menghadapi kepungan musuh sekampung,  jika ia yakin pada posisinya yang benar, ia akan menghadapinya, dengan resiko terburuk sekalipun. Itulah contoh sederhana dari tindih.

Spirit apa yang bersemayam pada sikap tindih itu? Tak lain adalah kesadaran tauhid. Spirit tauhid inilah yang mendorong orang sasak berani menghadapi resiko terburuk dalam membela kebenaran yang diyakininya.

Dari sikap dasar tindih itu, lahir 2 nilai instrumental yang dikenal sebagai 1. Semaiq atau semangiq dan 2. Pemole atau Memuliakan

Semaiq, secara harfiah berarti : patut, cukup, pantas, proporsional, sedangkan pemoleq berarti : memuliakan, menyayangi tetapi tidak sampai memuja apalagi memberhalakan sesuatu.

Tandang Lengkaq (Sikap dan Perilaku)

Apa yang tampak dari sikap dan tingkah laku manusia sasak, dengan kata lain, wujud  dari “tandang lengkaq” orang sasak, baik secara individu atau sebagai komunitas, secara bawah sadar dipengaruhi oleh nilai tindih dengan menerapkan konsep semaiq dan pemole.

Pilihan-pilihan didalam kepemilikan aset, cara berkesenian, berbusana, mengenakan assesories bahkan didalam memilih warna, dan lain sebagainya, semua dilandasi oleh konsep semaiq (cukup). Itulah sehingga orang sasak tidak berburu harta berlebihan melainkan secukupnya saja, semaiq. Cara berkesenian, tidak sampai berciri gebyar atau rame, juga tidak terlalu mencolok. Pilihan busana, juga tidak berlebihan tetapi tetap pantas dan tak bosan dipandang. Assesories pun demikian, pastinya assessories pada tubuh orang sasak, pastinya tidak “rame.” Warna-warna teduh dan tidak “ngejreng”, merupakan warna yang lebih disukai orang sasak. Semaiq saja.

Pada konsep pemole, siapa yang dipemole, dimuliakan, disayanginya? Adalah ibu-bapaknya, lawan bicaranya, orang lain, tamunya, gurunya, seniornya. Begitupula, asetnya baik yang tampak dan dapat dihitung (tingable) seperti : rumah, sawah, sapi, keris, dll, semua dipemole, disyukuri sehibgga dirawat. Aset yang tidak tampak (intingable) seperti : petuah dan nasehat, sikap hormat para tetangga, tamu, guru, lawan bicara. Dimuliakan, dijaga.

Didalam cara berbagi, orang sasak akan memberi pada orang lain dulu baru pada dirinya sendiri. Menyuguhi tamu lebih dulu baru tuan rumah. Bagaimana konsep pemole terterapkan didalam berkomunikasi? Lagi-lagi tampak ciri rendah hatinya disini (bedakan rendah hati dengan rendah diri). Kosakata dalam bahasa sasak, menggunakan terminologi “plungguh-tiang” dan bukan “tiang-plungguh” Orang lain dulu baru menyebut diri sendiri. Orang sasak akan memposisikan lawan bicaranya lebih tinggi dari yang seharusnya ia  diperlakukan, sebaliknya ia akan memposisikan dirinya setara atau lebih rendah dari lawan bicaranya. Dalam istilah komunikasi disebut: honorific communication. Maka acapkali janggal, jika ditemukan orang sasak “memper-lumbar” dirinya (memperhalus penggunaan kata untuk dirinya; lumbar bentuk halus dari laik dalam bahasa Indonesie berarti pergi. Atau “memper-bije” anaknya sendiri (bije berarti anak).

Kata kunci :

Tindih, Semaiq, Pemole, Logis, Etis, Estetis, Tandang Lengkaq

Oleh :

Bayu Windia

Ketua Badan Pelaksana Majelis Adat Sasak

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *