Tradisi Maleman Pada Masyarakat Sasak

Maleman merupakan tradisi setiap malam pada tanggal ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan. Maleman pada masyarakat Sasak ditandai dengan menyalakan Dile Jojor (lampu jojor). Dile jojor ini terbuat dari Dile jojor atau lampu ini terbuat dari buah jamplung yang sudah mengering dan sudah jatuh dari pohonnya dengan cara dibakar. Dile ini memiliki ukuran yang bervariasi tergantung dari si pembuatnya , yang biasanya ukurannya ada yang 15 cm , 20 cm , hingga 30 cm . Cara membuat dile jojor ini bisa dibilang lumayan rumit karena proses pembuatan yang sangat panjang . Caranya yaitu buah jamplung yang kering dikupas dan biji buah jamplung dijemur lagi hingga semakin mengering , barulah setelah itu disangrai sampai gosong dan menjadi hitam pekat dengan bau yang menyengat . Dan selanjutnya langsung diulek menggunakan cobek yang terbuat dari batu . Biji buah yang sudah gosong tersebut harus langsung diulek selagi masih panas agar mudah menguleknya karena jika sudah dingin akan sulit untuk melembutkannya disebabkan karena tekstur buahnya akan menjadi lebih keras , dan oleh karena itu cobek tidak boleh jauh dari tempat menyangrai agar mudah untuk melembutkannya . Terakhir buah yang sudah lembut itu dicampur dengan kapas dan dililit dengan menggunakan bambu seperti halnya membuat sate pusut .

Tradisi Maleman ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi masyarakat Sasak, yaitu bentuk rasa sukur kepada Sang Maha Pencipta, karena telah diberikan karunia dan anugrah untuk beribadah dibulan Ramadhan. Selain itu menyalakan Dile Jojor untuk meramaikan sepuluh malam terakhir bulan Ramdhan dengan mengharapkan dapat bertemu dengan lailatul Qadar (malam yang dimanfaatkan untuk beribadah pahalanya seperti beribadah selama seribu bulan). Menyalamakan maleman merupakan salah satu cara pandang hidup masyarakat untuk menunjukkan rasa sukur terhadapa Sang Khalik.

Cara pandang tentang hidup bagi masyarakat Sasak tidak terlepas dari keimanan yang menjadi sumber motivasi kebudayaannya, termasuk cara pandangnya tentang sumber kehidupan dan sikap terhadap kehidupan. Masyarakat Sasak memandang kehidupan berdasarkan konsep kosmologi tauhid, bahwa segala sesuatu yang ada dalam alam ini bersumber dari Allah SWT. Bagi masyarakat Sasak, hidup dipandang sebagai paice (anugrah) yang bersumber dari Yang Maha Hidup. Sebagai anugrah, hidup harus dimuliakan dan dijalani dengan rasa syukur. Dalam banyak kitab Suluk Sasak diuraikan tentang sumber kehidupan, baik yang berbahasa Kawi maupun bahasa Melayu. Salah satunya adalah kitab takepan Bayan Alip dan Asmaragama yang berbahasa Kawi. Pada pupuh sinom ke 16, kitab Bayan Alip  tertulis sebagai berikut:

“Sasmitanira punika, pan saking cahya kang wening, hya hiku hananira hing kuna, hing mangke sira punika, sarupanna hiki, dattullah kang jatinipun, hya sira kang hana, hing dunya prataning ahir, hya hiku hingaranan ujud pawagja”

Artinya:

“Perumpamaannya seperti itu, berasal dari cahaya yang bening, begitulah keberadaannya sejak dahulu, hingga saat ini, tidak ada bedanya, zat Allah sejatinya, karena itulah sebab adanya, dari dunia hingga akhir, itulah yang dinamakan ada yang sejati”.

Demikianlah masyarakat Sasak memandang keberadaan dan kehidupannya di dunia, berasal dari Allah yang dianugrahkan kepada manusia dan seluruh jagat. Manusia dan seluruh jagat ini hidup pada tataran masing-masing. Kehidupan benda materi (nabbani), kehidupan tumbuhan (nabati), kehidupan binatang (hewani) dan kehidupan manusia (insani) dengan karakter masing-masing. Demikian pula kehidupan jin dan malaikat serta iblis berada pada dimensi masing-masing dengan karakternya sendiri. Namun demikian, semua jenis dan sifat kehidupan itu  berasal dari satu sumber yaitu Allah SWT, sehingga secara hakiki tidak berbeda yaitu hidup sebagai makhluk. Maka orang Sasak berkeyakinan bahwa hidup itu sejatinya satu. Hal ini tertuang dalam kitab Asmaragama pada baris terakhir pupuh ke 6 pupuh sinom, tertulis “Wong sabwana hiku tunggal hurip hira”, artinya orang sejagat itu tunggal hidupnya. Orang dalam konteks ini mengacu pada makna seluruh makhluk. Pengetahuan dan kesadaran tentang sumber kehidupan ini merupakan pengetahuan yang wajib dituntut, sebab jika tidak memahami hal ini maka kehidupannya sama dengan kehidupan hewan. “Yen tan weruh hing sarira, sama lawan sato kaki – Jika tidak paham yang demikian sama dengan hewan, saudara” (Asmaragama pupuh sinom ke 17).

Paice berarti anugrah atau pemberian dari yang dimuliakan. Misalnya, jika seseorang memperoleh suatu jabatan, walaupun jabatan itu berasal dari atasannya, tetapi sejatinya ia memperolehnya karena kemurahan ketentuan Allah SWT. Demikian pula pemberian yang bersifat materi yang diberikan oleh seseorang, diterima dengan ungkapan paice, itu merupakan bentuk kesyukuran kepada Allah SWT karena sejatinya pemberian itu berasal dari Allah. Dengan kata lain, kata paice juga mengandung makna syukur dan terimakasih. Sehingga jika seseorang diberikan sesuatu, ia akan mengungkapkan terimakasihnya dengan kata tunas paice. Secara lebih luas, pemaknaan paice ini meliputi hidup, kehidupan dan penghidupan seluruhnya bersumber dari Allah SWT. Dengan demikian, ketika seseorang menggunakan kata paice, pada dasarnya sedang saling mengingatkan bahwa segala sesuatu bersumber dari Allah yang harus diterima dengan rasa syukur.

Dari pihak pemberi anugrah,  pasti ada dasar atau alasan dan tujuan tertentu memberikan anugrah kepada seseorang.  Suatu lembaga memberikan penghargaan berdasarkan penilaiannya tentang kesetiaan, kesungguhan, atau prestasi tertetu. Seseorang memberikan benda berharga kepada orang lain, karena ada hal yang sangat berarti yang telah dilakukan orang yang bersangkutan terhadap dirinya. Demikian  pula Allah menciptakan manusia (Adam) untuk mengemban tugas kekhalifan di bumi. Bani Adam melanjutkan tugas tersebut secara bergantian dari zaman ke zaman yang telah disiapkan sedemikian rupa oleh Allah. Sejak awal kejadian telah diuji kekuatannya dalam pertarungan kehidupan. Dari milyaran sperma hanya satu diantaranya yang terkuat dan dapat bertahan dalam proses percampurannya dengan ovum. Dalam kehidupan di dunia, seseorang mendapat paice yang disebut rahmat Allah karena ia mampu bersyukur dan menunjukkan sikap yang benar sebagai makhluk.

Paice urip (anugrah kehidupan) diterima dengan rasa syukur dan dimuliakan (ta pemolѐ)  melalui berbagai ritual inisiasi sejak ada tanda-tanda kehadirannya dalam rahim ibu, sampai saat kembali kepada sang Pemilik Kehidupan. Ritual inisiasi ini merupakan ungkapan rasa syukur menerima paice dan doa pengharapan agar selanjutnya dianugrahi rahmat, berupa iman islam, keselamatan, kesehatan, dan mampu bersyukur.

Sumber:

Buku Risalah Inen Paer. Karya L. Agus Fathurrahman. Penerbit Genius. Mataram. Lombok. (hal 123-125)

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *