Rebang Alung, Ritual Adat Menebus Kesalahan

Masyarakat Sasak merupakan masyarakat yang mendiami Pulau Lombok. Saat ini masyarakat Sasak juga telah menyebar ke berbagai wilayah di Kepulauan Nusantara. Setiap kelompok masyarakat memiliki kebudayaannya yang mengatur keteraturan hidupnya. Segala aktifitas kebudayaan ini terwujuda dalam rutual adat. Salah satu ritual adat yang termasuk dalam kategori ritual urip (ritual hidup) yang ada di Masyarakat Sasak adalah Ritual Rebang Alung.

Ritual “Rebang alung” merupakan rutual adat yang merupakan sanksi atau denda adat yang diberlakukan bagi orang yang  membuat pernyataan atau omongan yang dapat menimbulkan konflik ditengah masyarkat dikenal dengan istilah ngeletuhing jagad. Dalam ritual ini, anggota masyarakat yang dinyatakan bersalah setelah melalui mekanisme adat haru membayar sanki atau denda  berupa  piranti yang sudah disetujui oleh para tokoh adat dan pihak yang dinyatakan bersalah. Semua piranti dan denda yang sudah ditentukan akan dibawa didalam prosesi adat tersebut.

Salah satu yang harus dibayar atau diserahkan dalam ritual rebang alung adalah satu ekor kerbau dengan ukuran dan keriteria tertentu yang sudah disepakati bersama dalam musyawarah adat. Untuk menentukan besaran denda kerbau tersebut sesuai antara ukuran tanduk kerbau harus sama dengan kuping/telinga, dalam bahasa sasak dikenal istilah “ketarep“. Bukan hanya sampai disitu dendan ini juga mengisyaratkan anggota yang bersalah tadi perlu memberi makan anak yatim piatu dan jumlah disepakati dalam mekanisme adat tersebut.

Anak yatim piatu sedang menikmati hidangan yang disediakan dalam prosesi ritual rebang alung

Lebih jauh,  rebang alung dapat dimaknai berdasarkan kata penyusunnya yaitu, rebang ini dimaknai sebagai pembersihan, sedangkan alung dimaknai Undeng atawi remis/kotor. Sehingga rebang alung ini merupakan upacara pembersihan seseorang yang telah melakukan kesalahan besar. Terlebih kegiatan ini pernah dilakukan Utara (terlihat prosesi ritual rebang alung)

Memberi makan anak yatim piatu
Pembekel adat memimpin ritual rebang alung

Dari foto diatas terlihat yang melaksanakan prosesi ritual rebang alung ini adalah salah satu tokoh pejabat yang ada di salah satu Kabupaten di Lombok. Telah terjadi Penghinaan yang sangat tajam dan begitu melukai perasaan para Tokoh Adat beserta komunitas Adat pada saat itu. Berdasarkan keterangan Saksi-saksi, Pelanggaran Adat itu sudah dikatagorikan bila bibir (tidak mampu menjada ucapan) yang sudah melampaui batas dan bahkan melewati kohlibase atau lontaran penghinaan dari orang yang bowos (orang mabuk, biasanya berbicara tanpa dipikirkan). Pada saat ini Masyarakat menuntut Dendapati (Hukum Mati), namun setekah dilakukan mediasi antara palaku dan masyarakat sehingga seluruh masyarakat mau memaafkan dan perlu dijalankan ritual rebang alung.

Salah satu denda yang perlu dibayarkan, seratus keping kepeng bolong

Pada konteks ini pihak yang melakukan kesalahan membayar denda berupa seratus kepeng bolong dan seekor kerbau. Selain dari pada itu ada 40 ancak dan 4 dulang peroahan. Kemudian kepala kerbau diarungkan ketengah laut menggunakan jukung yang bermakna kesalahan yang dilakukan telah terhapus dan berhajat semoga segala khilaf yang telah dilakukan mampu dimaafkan dan lenyap bersama dengan luasnya Samudra.

Setiap kebudayaan memiliki aturan yang mengikat didalam masyarakat. Aturan-aturan ini dibuat berdasarkan kesepakatan bersama dengan tujuan menjaga kerukunan dan ketentraman hidup bermasyarakat. Setiap warga masyarat perlu taat dalam menjalankan setiap aturan yang telah ditetapkan dalam masyarakat dengan kesadaran penuh. Sehingga kerukunan dan kenyamanan hidup antar warga masyarakat dapat terwujud.

Sumber:

Wawancara liisan dengan Mamiq Jagad/Lalu Abdurrahim.

Grup Whatsapp Relawan Majelis Adat Sasak (MAS).

Editor: MZF

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *