Silaturrahmi Relawan MAS

(Mataram, Sabtu, 7/3/2020). Menunjukkan diri sebagai lembaga yang terbuka bagi masyarakat, Badan Pelaksana Majelis Adat Sasak (BP MAS) menyelenggarakan silaturrahmi dengan masyarakat yang ingin bergabung menjadi relawan dalam kegiatan-kegiatan lingkup kebudayaan Sasak yang digawangi BP MAS. Kegiatan ini diawali dengan membuka grup WhatsApp yang terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung. Melalui akun resmi Facebook Majelis-Adat Sasak, BP MAS mengundang keikutsertaan publik dalam membicarakan persoalan kebudayaan Sasak.

Ketua BP MAS, Drs. Lalu Bayu Windia, M.Si. didampingi Wasekjen menemui Relawan MAS

Ketua BP MAS, Drs. Lalu Bayu Windia, M.Si., menjelaskan tingginya animo masyarakat untuk bergabung dalam kerja-kerja MAS terlihat dari partisipasi dan ungkapan keinginan mereka dalam wadah diskusi digital tersebut. Untuk itu, Ketua BP MAS meyakini perlunya diadakan ajang silaturrahmi agar dapat saling berkenalan dan lebih akrab sesama pemerhati kebudayaan. Kegiatan akhirnya terlaksana pada hari Sabtu, 7 Maret 2020 pukul 15.00 Wita di ruang rapat Dinas Perhubungan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pada kesempatan itu, Ketua BP MAS didampingi oleh beberapa orang pengurus. Kegiatan dimulai dengan perkenalan diri setiap hadirin dan harapannya untuk MAS ke depan.

Seluruh peserta diskusi bergiliran menyampaikan pandangannya.

Setelah acara perkenalan, Ketua BP MAS yang memimpin langsung jalannya kegiatan membuka sesi diskusi bebas membicarakan Sasak dan persoalan-persoalan yang berkembang di masyarakat. Seluruh peserta kegiatan sangat aktif berkontribusi selama jalannya dialog. Beberapa isu yang mencuat antara lain persoalan adat istiadat, ekspresi kesenian dan pembinaannya, sengketa kepemilikan lahan di masyarakat, pernikahan dini dan stunting, ketenaga kerjaan, akses literasi budaya, fenomena global wabah Corona, dan sebagainya. Kesemuanya kemudian didaftar sebagai topik-topik yang harus dibicarakan dalam forum-forum diskusi mendatang.

Seorang peserta diskusi, Iskandar, antusias bicarakan kebudayaan Sasak

Salah seorang peserta diskusi yang masih tercatat sebagai mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Lombok Timur menyampaikan tujuannya bergabung untuk dapat belajar tentang adat Sasak langsung dari para pegiat. Peserta yang hadir datang dari berbagai latar belakang profesi, di antaranya analis medis, aparatur sipil negara, pengacara, pengusaha, pegiat sanggar budaya, pegiat sosial kemasyarakat, dosen, jurnalis, aktivis pemuda, mahasiswa, aparat penegak hukum, karyawan BUMN, dan berbagai profesi lainnya. Semuanya mendapatkan kesempatan berbicara dalam forum yang berlangsung selama hampir empat jam. Selain isu kebudayaan Sasak, ada pula di antara peserta yang bertujuan hadir karena ingin mengenal MAS.

Foto bersama peserta diskusi Relawan MAS

Ketua BP MAS dalam kalimat penutupnya menyampaikan bahwa MAS berdasarkan stelsel pasif yang dianut majelis adalah milik kita semua. Kehadiran teman-teman relawan menjadi api semangat baru yang menumbuhkan optimisme bahwa adat Sasak akan semakin terjaga kemartabatan dan kemurniannya di masa yang akan datang. Dalam kesempatan itu Bayu juga menyampaikan akan ada agenda selanjutnya yang disepakati dilaksanakan secara tematik sehingga hasilnya bisa lebih mendalam dan konkrit. Beliau juga menjelaskan bahwa BP MAS sedang mengusahakan sebuah sekretariat yang dihajatkan sebagai ruang bertemu dan ruang kerja bersama (co-working space) bagi siapa saja. Bayu juga meminta kontribusi seluruh hadirin untuk menyampaikan ke publik bahwa MAS bukanlah sebuah perkumpulan ekslusif dan tidak berorientasi menumbuhkan feodalisme baru, melainkan kumpulan konservator budaya yang harus berpikiran progresif tentang adat. Hal ini ditambahkan oleh Wasekjen BP MAS, Dr. Lalu Ari Irawan, dengan telah diluncurkannya website resmi dan platform literasi digital MAS, yaitu majelisadatsasak.org dan http://epustakamas.majelisadatsasak.org/. Ia menambahkan, BP MAS mengundang siapa saja untuk berkontribusi di kedua paltform online tersebut. Inilah upaya MAS untuk mengikuti perkembangan zaman. Kami juga mendorong pembuatan konten-konten budaya di berbagai platform yang ada, seperti YouTube, Instagram, dan sebagainya, tutupnya.

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *