MENGENAL TABELE KIYAI PUJUT

Bagi masyarakat Sasak yang tinggal di Kota Mataram dan sekitarnya mungkin merasa asing mendengar kata tabele, akan tetapi tidak bagi masyarakat Sasak yang tinggal di Lombok Tengah terutama daerah Pujut dan sekitarnya. Tabele ini merupakan kotak ukuran kurang lebih 3×3 cm, yang biasa dimiliki oleh para kiyai untuk tempat menaruh Al-Qur’an.

Kiyai Ratna dari Desa Kidang Menunjukkan Al-Qur’an yang ditempatkan di dalam Tabele warisan milik orangtuanya

Para kiyai sangat menghormati tabele ini, mengapa demikian karena didalamnya ada kitab suci Al-Qur’an. ketika menyimpan tabele biasanya mereka akan menaruhnya didalam ruang khalwat (khalwat merupakan tradisi dalam tarekat untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara menyendiri) mereka. Ruang khalwat bagi para kiyai merupakan tempat yang sangat sakral dan harus bersih dari najis, karena disanalah tempat mereka beribadah, berizikir dan berdoa. Tidak sembarang orang yang diajak kiyai untuk memasuki ruang khalwat, dengan maksud menjaga kesucian tempat itu.

Tabele yang digantung dirumah kiyai berukir hewan unta dibagian depannya

Tabele yang dimiliki setiap kiyai di daereah pujut memiliki ukiran dibagian depannya. Ukiran ini menurut kiyai Ratna tidak memiliki ciri khusus, tergantung dari selera masing-masing kiyai. Biasanya para kiyai akan membuat ukiran motif bunga disatu sisi dan gambar wayang atau unta disisi lainnya.

Table milik Bapak Kiyai Ratna yaitu Kiyai Minggim dengan ukiran kembang kangkung
Sisi bagian lain Tabele berukir tokoh wayang repat maje dan perus, serta ada tertulis nama pemilik tabele dan tanggaal dibuatnya.

Tabele biasanya dibawa oleh para kiyai ketika ada begawe (hajatan) yang mengisyaratkan akan adanya namatan (membaca Al-Qur’an sampai juz terakhir), misalnya acara nyiwaq (hari kesembilan kematian). Pada acara nyiwaq biasanya tabele ini akan digantungkan dirumah duka. Banyaknya tabele yang digantungkan menandakan banyaknya kiyai yang diundang.

Kumpulan Tabele yang digantung dirumah duka, pada hari kesembilan kematian (nyiwaq).
Batu nisan yang dipersiapkan pada hari kesembilan kematian

Penggunaan Tabele merupakan salah satu bentuk penerapan konsep pemole (pemuliaan) dimasyarakat sasak. Karena tabele ditempatkan Al-Qur’an. Hal ini merupakan bentuk kesadaran kehambaan masyarakat Sasak kepada sang kholik. Kesadaran kehambaan ini menjadi salah satu bentuk pemahaman diri dan jati diri masyarakat. Selain konsep pemole, dimasyarakat sasak juga dikenal konsep semaiq (cukup). Masyarakat Sasak tradisi tidak suka berlaku bermewah-mewah, karena mereka menyadari segala hal yang dimiliki berasal dari Allah. Sehingga mereka merasa lile (malu) untuk berlaku bermewah-mewahan. mereka hanya akan menggunakan segala sesuatu yang semaiq/Secukupnya.

Admin BP-MAS

(MZF)

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *