BAYAH NAZAR, BENTUK PENEPATAN JANJI ORANG SASAK

Pagi yang indah menemani perjalanan kami menuju pantai Cemara. Pantai ini terletak di Kabupaten Lombok Barat dekat dengan jalur penyeberangan pelabuhan Lembar. Suasana langit pada pagi itu berawan, sehingga udara pagi terasa agak dingin dan angin berhembus cukup kencang.

Jalan yang kami lewati cukup berliku dan menyusuri daerah tumbuhan bakau yang berada masih di dalam wilayah pantai cemara.

Pemandangan pantai Cemara di pagi hari. Pantai ini disebut pantai cemara karena banyak ditumbuhi oleh pohon cemara

Setelah berkendara cukup lama sampailah kami dipantai cemara. Pemandangan pantai yang indah seperti dikelilingi bukit-bukit nan hijau dan terlihat dari kejauhan Kapal Feri sedang bersandar.

Gugusan bukit yang mengelilingi pantai cemara, dan terlihat banyak kapal Feri yang bersandar

Sesampainya di lokasi, kami disambut senyuman hangat seorang laki-laki paruh baya dengan kumis tebal . Beliau merupakan Dalang Legendaris dan terkenal di kalangan masyarakat Sasak. Iya, beliau adalah Dalang Lalu Nasib, AR. Beliau juga terkenal karena berhasil membuat kreasi tokoh-tokoh pewayangan sehingga menjadi pembeda dari wayang ditempat lain.

Beberapa tokoh punawakan hasil kreasi beliau adalah, Amaq Amet, Amaq Keseq, Amaq Ocong, Amaq Baoq, Inaq Itet, Beko, Jero Dangkem, Teleng, Alam Cingang, dan Inaq Ajep.

Dalang, Lalu Nasib menyambut kedatangan kami dengan gembira

Beliau mengundang kami datang kesini dalam rangka, tasyakuran bayah nazar (menunaikan nazar) yang telah beliau niatkan jika beliau sembuh dari penyakit yang diderita.

Para undangan bayah nazar sedang menunggu acara zikir dimulai

Bayah nazar merupakan bentuk ketaatan individu terhadap diri sendiri dan rabb-Nya. Ketaatan ini terbentuk dalam diri dan perwujudan kesadaaran penghambaan makhluk kepada sang kholik.

nazar yang diniatkan oleh Lalu Nasib yaitu agar sanak keluarga dapat berkumpul dan berdoa bersama dikawasan pantai ini dekat dengan makam kramat. Makam kramat ini merupakan makam sayyid salah satu penyebar Islam di Lombok.

Air pantai sedang pasang sehingga kami tidak bisa berjalan kaki ke makam kramat yang berada tepat ditengah laut

Bagi masyarakat Sasak tradisi makam ini merupakan salah satu kemaliq (penanda) dan memiliki aura kosmos yang sangat kuat. Selain itu kemaliq ini berfungsi juga sebagai pengeling (pengingat), bagi masyarakat kepada seseorang yang sangat berjasa dimasa lampau mengenalkan para leluhur mereka kepada jalan yang lurus dan benar yaitu agama Islam.

Terlihat makam kramat dari kejauhan dan tampaknya terawat dengan baik

Bentu rasa syukur dan kesadaran ini diwariskan secara turun temurun sehingga masyarakat dengan sadar menjaga dengan baik wilayah makam kramat ini agar tidak rusak oleh tangan-tangan manusia yang jahil dan ingin menghilangkan jejak sejarah masuknya Islam di Lombok.

Masyarakat Sasak memiliki tradisi pemole (memuliakan), tradisi ini merupakan bentuk penghormatan masyarakat Sasak bagi siapa saja yang pernah berjasa dalam kehidupannya, salah satunya diwujudkan dengan penghormatan pada makam orang-orang yang telah menyebarkan Islam di Lombok. Selain itu konsep pemole juga dikenal dalam kehidupannya dengan alam dan makhluk hidup lainnya. Bagi masyarakat Sasak memuliakan merupakan bentuk kewajiban dan penghargaan terhadap sesama manusia dan alam. mereka selalu menjunjung tinggi konsep ini dalam kehidupannya bermasyarakat.

admin BP-MAS

(MZF)

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *