BELAJAR KONSISTENSI DARI DALANG LEGENDARIS, LALU NASIB

Sore ini kami bertandang kerumah dalang kondang Sasak, Bapak Lalu Nasib. Di Lombok siapa yang tidak mengenalnya. Rumahnya berada di Gerung Selatan, Kabupaten Lombok Barat. Beliau menyambut kami dengan hangat. Pria paruh baya ini selalu dapat membuat kami tersenyum sampai tertawa dengan segala bentuk celotehannya, padahal beliau baru selesai operasi. Hal tersebut tidak menghentikan semangatnya untuk terus akrab dengan siapapun yang datang bertamu kerumahnya. Kami sangat bersukur karena disela-sela kesibukannya kami dapat bertemu dengan beliau.

Banyak hal yang kami diskusikan mulai dari kondisi saat ini, hingga kisah-kisah masa lalu dari kisah kerajaan selaparang, pejanggik, hingga patih Arya Banjar Getas.

Keterampilan bertutur yang sangat baik membuat kita seakan-akan seperti membaca kisah tersebut tepat didepan mata. Selain itu beliau juga mampu memberikan sisipan-sisipan guyon yang memunculkan gelak tawa. Pembicaaran serius kami mengarah pada kehawatiran beliau tentang generasi penerus pedalangan Sasak saat ini yang perlu menjadi perhatian semua pihak.

Beliau memiliki angan-angan agar seni pertunjukan wayang dapat diminati oleh semua kalangan dan dipelajari dalam berbagai institusi baik itu formal mapun informal. Harapannya adalah kita tidak kehabisan generasi penerus dalang Sasak.

Bak gayung bersambut, apa yang diungkapkan oleh Lalu Nasib, ternyata merupakan salah satu konsen dari Lalu Abdul Rahim, MH. Pria yang akrab disapa Miq Ahim ini, adalah sekertaris Persatuan Pedalangan Indonesia, NTB (PEPADI NTB). Beliau mengungkapkan PEPADI memiliki rencana akan mengadakan Festival dalang Bocah dan dalang Muda.

Sekertaris PEPADI NTB , Lalu Abdurrahim (baju dinas) sedang berdiskusi dengan Dalang Sasak, Bapak Lalu Nasib.

Tujuan dari kegiatan tersebut adalah mencari bibit-bibit unggul dalang sasak yang tidak hanya pandai memainkan wayang kulit, tetapi juga memahami pemahaman dasar Filosofis dari wayang dan juga tokoh-tokoh yang ada dalam wayang. Tokoh-tokoh wayang Sasak memiliki ciri khas berbeda dari pada wayang Jawa dan Bali.

Cirikhas yang dimiliki ini harus mampu dimunculkan oleh para dalang sebagai bentuk pembelajaran nilai. Sehingga nilai-nilai luhur yang dimiliki bangsa Sasak mampu di sampaikan melalui cerita yang dimainkan dalam wayang, dengan harapan para penonton dan penikmat wayang dapat meresapi dan memahami secara mendalam nilai-nilai budaya yang disampaikan oleh para Dalang.

Terlalu asik kami mengobrol, sehingga tidak terasa masjid didekat rumah Lalu Nasib mengumandangkan Terahim (Syair pujian kepada Baginda Rasullah SAW, biasanya diputar di Masjid-masjid di Lombok sebelum azan dikumandangkan). Karena waktu sudah mau magrib kami pamitan pulang, banyak hal yang kami dapatkan dari diskusi sore ini, tentang makna hidup dan perlunya kekonsistenan dalam hidup, hingga kisah-kisah roman picisan lokal yang membuat gelak tawa tak henti.

Senyum merekah tersungging dari bibir Lalu Nasib, mengantarkan kami keluar dari pintu rumah. Suara khas beliau masih terdengar hingga kami keluar dari gang komplek perumahan tempat tinggalnya.

Generasi penerus perlu banyak belajar dari beliau tentang kekonsistenan dalam hidup, sehingga kita tidak ragu lagi menjadi seorang profesional yang mampu berbicara banyak, baik itu ditingkat Lokal maupun Global

Admin BP-MAS

(MZF)

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *