MAEN BALE-BALEAN

Bale-balean merupakan salah satu permainan tradisional. Permainan ini banyak sering dimainakan oleh anak-anak yang berasal  dari kampung Gubuk Daya, Desa Denggen, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur.

Bale-balean berasal dari kata bale yang berarti rumah, bale-balean berarti rumah-rumahan,yang dimana pengertian yang terkandung di dalamnya adalah bermain rumah-rumahan yang disemarakkan dengan cara penganten-pengantenan (nikah-nikahan) sekaligus merupakan inti dari permaianan ini. Permaianan bale-balean ini biasanya dilakukan pada siang atau sore hari pada musim panen. Permaianan ini sebagai hiburan dan dimainkan bersama oleh anak-anak. Nikah-nikahan dalam permainan ini tidak mengikuti aturan baku pernikahan sesungguhnya sesuai aturan adat masyarakat Sasak, tetapi hanya simbolisasi saja. Namanya juga permainan.

Peserta atau pelaku dari permainan bale-balean ini terdiri dari anak-anak laki-laki dan perempuan anatara umur 6-13 tahun, kira-kira usia anak sekolah Dasar, jumlahnya tidak tertentu, makin banyak maka akan makin meriah. Dalam permaianan ini semua anak dari semua lapisan masyarakat bermain bersama, peserta permaianan dibagi menjadi empat kelompok yaitu seorang anak laki-laki yang menjadi penganten laki-laki, dan seorang anak perempuan sebagai pengnten perempuan, pengiring (dayang-dayang) biasanya jumlahnya tidak dibatasi dan sekaha (kelompok pemain alat musik mengiringi pengantin).

Permaianan tradisional ini sesungguhnya memili perlengkapan yang sangat banyak, sesuai dengan perlengkapan pada acara yang sebenaranya, hanya saja permaianan ini hanya sekedar tiruan. Peralatan yang dipergunakan dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu: Peralatan pengantin berupa hiasan-hiasan untuk pengantin, peralatan pengiring terdiri dari bokor, piring-piringan atau apa saja yang biasa dipakai mengatur bunga-bungan atau makan-makanan. Semua makanan dibuat dari tanah, hanya berbentuknya makanan yang sesungguhnya, dan peralatan gamelang berupa segala jenis alat yang berbunyi jika dipukul seperti piring,  Pengantin sebelum diarak keliling mereka dipayas (didandani) selayaknya pengantin sungguhan. Para penonton menyambut riuh permainan ini dengan nyanyian atau sorakan-sorakan kebahagian.

(Muzakkir)

Sumber Bacaan: Buku Permainan Rakyat Daerah Nusa Tenggara Barat (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat)

Sumber Foto: Koleksi Pribadi Admin BP-MAS

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *