KETIKA AROMA KOPI NTB TERCIUM SAMPAI EROPA

(Minggu, 9/2). Diskusi akhir pekan kali ini, Badan Pelaksana Majelis Adat Sasak (BP MAS) bertemu beberapa pengusaha kopi lokal. Ketua BP MAS, Drs. L. Bayu Windia, M.Si. berdialog dengan sejumlah ‘pemain’ kopi di Mataram. Berbagai hal mengemuka dalam diskusi yang berlangsung di Villa Bale Seni yang berada di Jl. Jendral Sudirman (lingkar utara Mataram) di seputaran Rembiga-Gegutu. Terungkap, kopi produk lokal telah dinikmati di Inggris.

Diskusi bersama para pengusaha kopi

Selain Ketua BP MAS, hadir pula beberapa peserta diskusi lainnya. Di antaranya, Dr. Lalu Ari Irawan (Wasekjen BP MAS), Hj. Nurwardaeni (pemilik Coffee Rinjani dan Sajang), Erna (kopi rempah Akifa), Qwadru (kopi de Wangi Wangi), Arsa (Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi-HIPI NTB), Gunawan (Sekjen HPI NTB), Noval (pengusaha jasa pengemasan), dan Ramli Ahmad (produk olahan kelor). Meskipun terbatas, diskusi kali ini menghasilkan banyak poin penting.

Pembicaraan berlangsung selama beberapa jam di tengah hujan deras sambil menikmati suguhan kopi Rinjani Coffee. Tim redaksi BP MAS mencoba menyimpulkan beberapa hal yang mengemuka dalam diskusi.

Pertama, potensi kopi Lombok dan Sumbawa tidak kalah bersaing dengan daerah lain. Bahkan, kita memiliki keunggulan yang tidak dipunyai daerah lain, seperti bentang alam dan iklim yang mendukung berkembangnya varietas yang memiliki cita rasa yang khas dan nikmat. Kedua, 60% permasalahan kopi terjadi di hulu, yaitu di petani. Untuk itu, perlu dilakukan pembinaan yang tepat, baik pemerintah dan pengusaha di bidang kopi. Selain itu, para pebisnis kopi di tengah dan hilir harus bersepakat menambahkan margin keuntungan bagi para petani, sekaligus mengedukasi mereka tentang kualitas hasil produksi yang optimal. Ketiga, kopi lokal NTB harus didorong untuk segera merambah ke pasar ekspor, terutama ke negara-negara yang tidak memiliki produksi kopi. Keempat, pemerintah sebaiknya meningkatkan sumber daya manusia di organisasi perangkat daerah yang menguasai tentang kopi agar dapat memberikan intervensi yang tepat kepada petani maupun pengusaha. Kelima, kopi berpotensi menjadi branding pariwisata daerah, layaknya kopi gayo, Toraja, dan lain-lain. Namun, harus ada terobosan terkait branding ini, ungkap para pengusaha kopi yang hadir. Keenam, biaya kemasan produk menjadi tantangan tersendiri bagi pengusaha yang berdampak pada harga jual. Ketujuh, harus ada yang fokus mengembangkan teknologi pengolahan kopi, baik di hulu mau hilir. Pada hal ini, pemerintah harus melakukan intervensi sesuai dengan visi industrialisasi yang diusung Pemerintah Provinsi NTB. Kedelapan, kopi lokal harus menjadi salah satu komoditas utama untuk dibawa pameran ke pasar nasional dan mancanegara. Sembari juga mendorong kopi sebagai salah satu fitur dalam kalender pariwisata di dalam daerah. Kesembilan, pengetahuan tentang kopi harus banyak dibicarakan agar dapat mengedukasi masyarakat tentang manfaat dan kelebihan kopi lokal. Kebanggaan pada kopi lokal, akan membangun citra positif kopi produksi sendiri. Kesepuluh, harus ada dorongan dari pemerintah agar produk kopi lokal menjadi salah satu menu di berbagai restoran maupun kedai kopi yang ada di NTB. Menurut Ketua BP MAS yang juga Kepala Dinas Perhubungan NTB, hal itu sangat dimungkinkan dalam bentuk himbauan atau pernyataan publik setiap kepala daerah. Ia juga akan berusaha menyampaikan hasil diskusi hari ini kepada pemerintah melalui forum OPD.

Ketua BP MAS dan Ketua HIPI NTB duduk semeja bicarakan potensi kopi lokal

Menurut salah seorang pengusaha yang hadir, Qwadru, dalam setiap cangkir kopi, selalu ada cerita untuk dikisahkan. Maka, setiap tukang seduh (barista), harus memiliki bekal pengetahuan tentang kopi yang disuguhkannya, imbuhnya. Kopi Wangi Wangi miliknya, yang beraroma anggur (wine), juga diceritakan prosesnya yang penuh dengan kehati-hatian dan kesungguhan dengan harapan akan menghadirkan cita rasa kopi yang berkualitas tinggi. Jelaslah mengapa kedai kopi Wangi Wangi de Kopi selalu ramai pengunjung di setiap malam.

Ibu Hj. Nurwardaeni, pemilik kopi merk Rinjani dan Sajang, bercerita kisah awal dirinya terjun ke bisnis kopi. Ia termotivasi salah seorang tamunya yang memuji suguhan kopi ketika bertamu ke rumahnya. Sejak saat itu, ia belajar tentang kopi, meskipun sebenarnya ia bukanlah penikmat kopi. Saat ini, Bu Daen, panggilan akrabnya, telah berhasil mendapatkan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk kopi Sajang miliknya. Beberapa item produknya yang telah beredar di pasaran, antara lain Black Coffee Arabica & Robusta 100g dan 150g, Ginger Cinnamon Arabica & Robusta 100g dan 150g, Coffee Luwaq Liar 150g, Coffee Rumput Laut Arabica & Robusta 150g, dan Kopi Sangrai Tradisional 250g & 500g Arabica & Robusta. Mantan pengusaha travel ini menambahkan bahwa ia sedang menyiapkan varian produk terbaru, kopi penambah stamina bagi pria. Empat varian kopinya telah dibawa ke Inggris baru-baru ini. Pernah diminta menjual gelondongan tanpa merk, ibu ini menolak karena ingin membawa nama daerahnya ke pentas dunia.

Bicara kopi sambil menikmatinya

Ibu Erna, pemilik merk kopi rempah Akifa, menjelaskan hal-hal menarik tentang bagaimana menikmati kopi. Air untuk menyeduh sebaiknya di suhu 90 derajat celcius dan diseduh dengan jarak yang cukup dari cangkir, seperti layaknya membuat teh tarik. Kopi baiknya dinikmati tanpa gula dan sebelum ditelan, diamkan sejenak dalam rongga mulut guna mendapatkan cita rasanya. Selain itu, ia menjelaskan bahwa kopi adalah material yang sangat sensitif. Menyimpannya harus di tempat yang baik, seperti di atas meja karena menempatkan kopi di lantai dapat mengubah cita rasanya. Biji kopi yang belum di-roasting, baiknya disimpan dalam tas plastik bening, agar tidak merusak kualitasnya, tutupnya.

Sebuah pertemuan berharga di menjelang festival Bau Nyale ini membuka cakrawala baru tentang kebudayaan Sasak. Kopi adalah salah satu fitur sosial-budaya di masyarakat Sasak. Kemana saja kita pergi di Lombok, kita terbiasa mendengarkan ungkapan spontan, “Silaq, mentelah ngupi juluq” (Mari, mampir minum kopi dulu). Salah satu ekspresi kehangatan masyarakat yang membawa Lombok menjadi destinasi favorit masyarakat dunia (ial).

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *