MAEN DENGKLEK

Kata dengklak berarti menghentakkan kedua belah kaki secara bersamaan ke tanah. Inti dalam gerakan permainan ini adalah menghentakkan kedua belah kaki ke tanah. Permainan dengklak tidak ada hubungannya dengan perstiwa dimasa lalu. Oleh karena itu, permainan ini dapat dimainkan setiap saat yang biasa dimainkan untuk mengisi waktu senggang sekaligus sebagai hiburan. Permainan ini dimainkan oleh anak-anak dari semua lapisan masyarakat, tidak ada pembatasan dalam bermain baik anak bangsawan maupun anak jajar karang bersatu dalam permainan dan permainan dangklak tidak ada hubungan langsung dengan upacara adat atau agama. Dalam perkembangannya permainan dangklak tidak mengalami perubahan fungsi maupun aturan-aturannya, yang banyak mengalami perkembangannya adalah jenisnya. Menurut keterangan informasi, permainan dangklak mempunyai beberapa jenis yaitu, dangklak kapal, dangklak payung, dangklak kelambi, dangklak topat, dangklak kasor atau selapan, dan dangklak siu.

Peserta dalam permainan dangklak terdiri dari dua orang atau satu lawan satu dan biasanya permainan ini banyak diminati oleh anak perempuan. Sarana pengadaan dalam permainan ini sangat mudah dan tidak membutuhkan banyak biaya sehingga peralatan dan perlengkapan yang digunakan yakni katuq yang dipakai sebagai alat utama. Katuq bisa dari Telawe (pecahan genteng) atau Kepeng Jembung (pecahan piring), Batu Gepeng (batu yang pipih). Besar katuq biasanya ± 3 cm, bentuknya bulat, persegi atau tidak beraturan, yang terpenting katuq dapat jatuh tepat di area atau dalam garis dangklak ketika dilempar.

Adapun aturan dalam permainan dangklak yaitu siapa yang menang sut (suit) mendapat giliran main terlebih dahulu, apabila dalam bermain dapat menyelesaikan satu tahap permainan maka akan memperoleh poin satu atau sering disebut “Bale” (rumah/istana) yakni penguasa terhadap satu kotak permainan yang tidak boleh diinjak oleh lawan, kecuali ada izin. Adapaun tatacara untuk memperoleh bale yaitu dengan melempar katuq dengan menghadap belakang dan dimana katuq tersebut jatuh maka disanalah tempat bale atau kotak yang akan dikuasai, sementara pihak lawan pada saat mendapat giliran main, maka kotak atau bale tersebut diloncati dan begitu seterusnya. Kemudian dalam pergantian pemain memiliki aturan tersendiri yaitu apabila katuq menyentuh garis pada saat melempar katuq atau pada waktu dijalankan, katuq jatuh di rumah lawan, katuq jatuh ketika sedang dibawa pada saat bermain, dan katuq jatu pada kotak yang bukan sasarannya.

(Muzakkir)

Sumber : Tim Ysb Pulayakendase, Permainan Tradisional Suku Sasak, Mataram: Pustaka Widya, 2010.

Sumber Foto: https://www.google.com/url?sa=i&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwi-ucKlsLPnAhWE6XMBHZklBfgQjB16BAgBEAM&url=http%3A%2F%2Fsariwangi.sideka.id%2F2018%2F11%2F03%2Fsehat-melalui-kaulinan-sunda-pecle%2F&psig=AOvVaw1gwCzlk1H43VFcxHazXXbn&ust=1580750212355234

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *