MANAJEMEN PONPES TERINTEGRASI ALA TGH. HASANAIN DJUANI

Minggu (02/02/2020), beberapa pengurus Badan Pelaksana Majelis Adat Sasak (BP-MAS) menemui TGH. Hasanain Djuaini, M.H., pimpinan Pondok Pesantren (ponpes) Nurul Haramain Putri di area ponpes yang berada di wilayah Desa Kembang Kuning, Narmada, Lombok Barat. Tuan Guru Hasanain, sapaan akrabnya, menyambut tamunya dengan menceritakan tentang konsep pembangunan saluran kali yang sedang digarapnya. Seperti di Jepang, aliran kali yang melintasi pondok ini akan diisi ikan yang akan dapat terlihat karena airnya yang jernih. Kami telah melakukan pengkondisian di area sekitar aliran kali agar bisa dimanfaatkan secara optimal. Beberapa kincir air akan dipasang guna menaikkan air ke kanal yang sedang kami buat di tepian kali, terangnya. Infrastruktur pendidikan juga kami bangun di dekat kali guna menunjang kegiatan belajar mengajar sehingga para santriwati bisa lebih konsentrasi menimba ilmu di sini. Ia juga menjelaskan bahwa ponpes juga akan membangun kawasan pertanian terintegrasi di seberang kali yang sedang dalam pengerjaan itu. Semua kami lakukan secara swadaya dan harapannya dapat memberikan pengalaman belajar langsung dari alam bagi para santri.

TGH. Hasanain Djuani menerima kunjungan tim BP MAS

Pada kesempatan itu, Tuan Guru juga menjelaskan tentang beberapa kegiatan kesenian yang menjadi program pendidikan di lembaganya itu. Ia percaya bahwa sebuah institusi pendidikan, terlebih ponpes, haruslah memiliki konsep visi pengelolaan yang terintegrasi. Baginya, ponpes tidak boleh hanya terfokus pada satu bidang atau branding, melainkan harus holistik. Para santri harus diberikan kesempatan mendapatkan pengalaman di semua bidang ilmu pengetahuan dan keterampilan. Baginya, tidak mungkin sebuah satuan pendidikan membatasi ruang pemikiran para santri hanya pada satu orientasi saja, hal itu tidak akan membantu para santri berpikir komprehensif. Tim berdiskusi sore itu di atas kali jernih yang dijelaskan oleh Tuan Guru, sambil menikmati buah durian hasil dari kebun milik pondok.

Lalu Abdurrahim, M.H., Ketua Divisi Pengembangan Ritual dan Tradisi BP MAS sedang menikmati durian Ponpes Nurul Haramain

Diskusi juga menyentuh tentang pentingnya membangun budaya literasi di masyarakat. Saya selalu membawa buku kemana pun saya bepergian. Selain menjadi kebutuhan, itu juga akan memberikan contoh kepada para santri tentang pentingnya membaca, terang Hasanain. Melalui BP MAS, ia kemudian berpesan agar semua pihak memberikan apresiasi yang intangible (tidak kasat mata) kepada siapa saja yang telah berkontribusi di dunia tulis-menulis. Hal ini dimaksudkan agar dapat merangsang para penulis untuk semakin produktif berkarya atas apresiasi yang tak ternilai harganya. Melalui literasi masyarakat dapat mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain. Kyai yang berpikiran progresif ini juga sempat berbagi pandangannya terhadap berbagai isu dan persoalan yang sedang mengemuka. Berbagai ide-ide menarik pun sempat terlontar tentang wacana-wacana pembangunan berbasis gotong-royong. Diskusi sore itu pun berakhir seiring datangnya senja di cakrawala. Tim BP MAS meninggalkan area pondok agar sang kyai dapat kembali menjalankan tugasnya memimpin para santri yang akan melaksanakan ibadah solat magrib (ial).

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *