HIKAYAT PERANG TIMBUNG

Sejarah terjadinya Perang Timbung/Penimbungan adalah ketika salah satu fatwa dititahkan oleh seorang Raja (Datu) yang berkuasa di sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Poh Jenggi (Pejanggiq). Di kerajaan ini bertahta seorang Raja (Datu) yang sangat arif dan bijaksana, Raja ini bertahta dengan gelar Datu Dewa Mas Pemban Aji Meraja Kusuma (Datu Pemban Pejanggiq). Kerajaan pejanggiq adalah sebuah kerajaan Fazal dari kerajaan Selaparang yang mempunyai pusat kerajaan di Perigi (Lombok Timur) yang memerintah di Kerajaan Fazal Selaparang (pejanggiq) ini adalah keturunan dari Raja-raja Selaparang.

Ketika bertahta Dewa Mas Pemban Aji Meraja Kusuma di Pejanggiq, kondisi kerajaan pada saat itu sedang mengalami mis komunikasi dengan kerajaan induk yang akibatnya akan bermuara pada konflik internal kerajaan. Sebagai seorang raja (Datu) yang religi dan fanatic islam, maka raja yang arif dan alim ini melakukan persemedian (Tapa Brata/berhaluat), dimana dalam haluatnya baginda mendapat hidayah dari Yang Maha Kuasa yaitu petunjuk/wangsit bahwa negeri akan ditimpa petaka yang sangat dahsyat dan akan mengalami keruntuhan.

Baginda Raja mengakhiri haluatnya dengan memanggil seluruh pemating, panggawa kerajaan dan semua Pandite para normal yang ada untuk mentakbirkan hidayah yang datang di haluat baginda Raja, hidayah ini dibahas berhari-hari bahkan berminggu-minggu, disaat Gondem dilakukan oleh semua perkanggo Kerajaan, muncul salah seorang Pandite sepuh mengajukan usul kepada Baginda, yang dimana usulan tersebut merupakan cara untuk mengatisipasi apabila suatu saat terjadi bencana di Negiri ini khususnya Kerajaan Pejanggiq, usulan tersebut bukan sesuatu yang berlebihan  akan tetapi Datu Pejanggiq cukup dengan memberi titah kepada segenap Kawula Kerajaan Pejanggiq untuk melakukan ritual Tolak Balaq dengan membuat jajan Pelemeng (Timbung) yang terbuat dari beras pulut/ketan yang dicampur dengan perasan santan kental di an dibungkus dengan bilah bambu. Dari hasil Gondem maka dibuat kesimpulan bahwa akan dilakukan ritual (upacara) tolak balaq sebagai suatu upaya mengantisipasi bencana/musibah yang akan menimpa Kerajaan Pejanggiq yaitu upacara Perang Timbung/Penimbungan.

Jadi, hal inilah yang melatar belakangi ritual Perang Timbung/Penimbungan dilaksanakan sejak dahulu kala hingga saat ini dan bahkan uparaca ritual Perang TIMBUNG/Penimbungan oleh Pemda Lombok Tengah.

(Muzakkir)

Sumber: Tim Ysb Pulayakendase, Permainan Tradisional Suku Sasak, Mataram: Pustaka Widya, 2010.

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *