MEMAHAMI ISLAM SASAK: SEBUAH PENGANTAR

Kepercayaan asli masyarakat Sasak, sebagaimana kepercayaan asli lainnya di nusantara, lahir dari kesadaran tentang adanya kekuatan dan kekuasaan di luar dirinya yang tidak dapat dirumuskan dengan akal pikiran. Kesadaran itu melahirkan adanya kebutuhan spiritual dan menciptakan sistem simbol dalam sistem kebudayaan. Berbagai simbol muncul dalam lokus-lokus tertentu seperti Pangeran Tatangguran, Sepeng kula, Nenek Kaji, dan mungkin masih banyak lagi yang belum teridentifikasi. Simbolisasi kekuatan spiritual dalam masyarakat Sasak pada dasarnya bersifat idea dan tidak dimunculkan dalam bentuk atau benda tertentu sehingga kecenderungan monotheistiknya sangat jelas. Sistem kepercayaan sebagai sistem budaya diwujudkan dengan ritual religius magis melalui perangkat upacara untuk mengekspresikan hubungan manusia  dan alam dengan kekuatan gaib yang diyakininya. Kesadaran spiritualitas yang telah menjadi kompleksitas idea, gagagsan, nilai, norma, dan simbol itu menjadi penggerak kebudayaan dan sekaligus menjadi benteng kebudayaan. Deskripsi nilai dan norma yang menjadi acuan dasar masyarakat tradisional Sasak bertolak dari ajaran bakti kepada orangtua dan leluhur, yang selanjutnya menjadi media untuk berbakti kepada tempat kembalinya roh nenek moyang itu yaitu kepada Yang Maha Kuasa. Di Lombok Utara atau masyarakat Daya dikenal dengan Sepeng kula (Umar Siradz, dkk.: 1996).

Roh-roh nenek moyang dianggap sebagai si epeang ita menjadi perantara menuju Sepeng kula. Selanjutnya pasrah kepada yang Maha kuasa merupakan sikap tertinggi masyarakat Sasak tradisional. Dengan simbol lokal yang berbeda-beda, masyarakat Sasak tradisional meletakkan dasar spiritualitasnya pada 3 (tiga) eksistensi, yaitu orang tua, leluhur, dan Yang Maha Kuasa yang menciptakan dan memiliki kehidupan ini. Tiga eksistensi ini yang selanjutnya disimbolkan dengan Wetu Telu (bukan Waktu Telu). Proses inkulturasi dengan berbagai pengaruh luar yang mendahului Islam tidak dapat mengubah keyakinan monotheistiknya. Jika pun ada pengaruhnya, maka ia hanya muncul dalam wujud sinkritisme dalam ekspresi lahiriah. Kondisi keberagaman masyarakat Sasak seperti itu terus berlangsung hingga dakwah Islam awal sampai di Lombok.

Keberadaan situs purbakala berupa masjid tua dan pusaka-pusaka penyertanya seperti Al-Qur’an tulisan tangan dan manuskrip lontar yang banyak di temukan di Pulau Lombok merupakan saksi perjalanan Islam yang harus diapresiasi. Dari sana akan diperolah penjelasan tentang aspek-aspek historis dan filosofis yang membangun pilar-pilar keyakinan, pemahaman, sikap dan perilaku beragama (Islam) di Pulau Lombok, khususnya di lingkar kaki gunung Rinjani.

Pusaka naskah kuno yang berisi ajaran-ajaran sufisme

Secara historis, keberadaan Islam di Lombok memang masih menyisakan banyak pertanyaan dan sekaligus melahirkan jawaban yang masih dapat diperdebatkan. Demikian juga dengan aspek-aspek filosofis masih tampak ada jarak pemahaman antara aqidah, tasawuf, dan syariat dengan pendekatan kearifan lokal sehingga Islam yang terekspresi pada sebagian masyarakat Sasak tradisi tampak berbeda dengan Islam pada umumnya. Dalam konteks ini, Islam Sasak menjadi sesuatu yang masih perlu pengkajian lebih mendalam dari berbagai perspektif sehingga tidak terjerumus pada langkah yang salah dalam upaya menyelamatkan umat.

Fakta-fakta sosiologis dan antropologis yang selama ini digunakan sebagai pintu masuk para peneliti dan penulis untuk mengungkap Islam Sasak adalah potret-potret kekinian yang telah mengalami berbagai tempaan sejarah sehingga kemungkinan menimbulkan distorsi cukup besar. Memahami realitas Wetu Telu dengan fenomena kekinian akan membuat kita mudah sekali terjebak untuk turut menjustifikasi sebagai sesuatu yang salah dan menyalahkan sehingga akan menyebabkan komunitas pengusungnya justru menjadi lebih eksklusif dan semakin sulit didekati.

Fenomena lain yang juga memperkuat eksistensi kelompok ini secara antropologis adalah perilaku kebijakan yang memublikasikan keunikan sebagai bagian dari strategi pemasaran pariwisata. Hal ini menyebabkan peluang menguatnya tradisi dalam beragama (yang cenderung memuat perilaku sinkritik) menjadi semakin kuat. Pendekatan keunikan memang bukan sesuatu yang salah, tetapi jika dikaitkan dengan kehidupan beragama, tentu menjadi hal yang harus didiskusikan lebih jauh tentang batas-batas toleransi secara akidah dan syariah. Fenemona-fenomena tersebut hendaknya dipandang sebagai tantangan dalam membangun strategi dakwah yang lebih sinergis dengan kebijakan pembangunan kesejahteraan umat lahir dan batin.

Sebagai artefak, masjid kuno yang kini secara fisik hanya seonggok bahan bangunan tradisional yang rapuh dan nyaris tak dipedulikan. Tetapi, bangunan ideologisnya masih sangat kuat hidup di hati masyarakat  pendukungnya. Belum ada data yang akurat tentang kapan berdirinya masjid-masjid kuno ini, namun bukan berarti hal tersebut tidak bisa dilacak. Infomasi yang selama ini kita terima tentang masuknya Islam di Lombok sezaman dengan Sunan Prapen yang berarti setelah kerajaan Mataram, sekitar abad ke-14 (Lalu Wacana dkk, 2002). Tetapi jika kita memperhatikan artefak kuno serta ideofak yang masih hidup dalam tradisi masyarakat pendukungnya, informasi tersebut tampaknya perlu ditinjau kembali.

Pola dakwah Islam pada era Sunan Prapen sudah lebih mengarah pada pemurnian Islam secara akidah maupun syariah. Sementara simbol-simbol yang ditemukan pada masjid-masjid kuno tersebut menunjukkan era sebelumnya. Demikian pula aspek-aspek dasar keyakinan atau konsep ketuhanan maupun pola-pola ekspresinya tampak sejalan dengan pendekatan yang digunakan oleh Sunan Kalijaga yang berarti masih pada era akhir Majapahit. Bahkan ada sebagian tokoh masyarakat yang meyakini bahwa Islam di Bayan langsung oleh Sayyid Ali Murtadho, Putra Ibrahim Samarkandi. Tentu saja infomasi ini juga masih memerlukan pengkajian lebih lanjut.

Keberadaan simbol buaya di Masjid Barong Biraq, sapi, burung, dan ikan di Masjid Kuno Bayan Beleq, naga di Masjid Salut, ayam hutan di Masjid Sembageq, ayam jago di Masjid Gumantar, burung di Masjid Batu Gembung, dan lain-lain juga menunjukkan simbol-simbol yang tampaknya pengaruh dari dialog simbol spiritual sinkritik masa sebelumnya. Pola-pola dialogis antara keyakinan awal masyarakat Sasak pada waktu itu dan pendekatan yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga digunakan oleh para penyebar Islam di Lombok untuk menanamkan pemikiran-pemikiran sufisme Jawa di kalangan masyarakat Sasak pada masa itu.

Simbol ayam hutan di atap Masjid Adat Sembagek

Pada era selanjutnya, transformasi dilakukan dengan pendekatan sastra. Naskah-naskah yang dibaca seperti Jatiswara, Tapel Adam, serta naskah-naskah yang berhuruf arab berbahasa kawi dan lain-lain jelas menunjukkan pola sufisme Jawa yang berkembang sejak awal Islam di Pulau Jawa. Bacaan terhadap karya-karya sastra tersebut melahirkan pola penggambaran dan perumpamaan wayang tapel dalam memahami eksistensi “ada” juga merupakan ciri transformasi Islam Jawa pada era Islam awal (P.J. Zortmulder, 1991). Demikian pula pola mantra seperti anakidung yang dalam masyarakat Jawa juga diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga sangat dikenal dan banyak digunakan oleh masyarakat Sasak hingga saat ini. Semuanya dapat menjadi referensi tentang masa awal Islam di Lombok.

Tulisan ini disadur dari buku “Direktori Masjid Adat di Lombok“, karya Lalu Agus Fathurrahman diterbitkan tahun 2014 oleh Penerbit Genius, Mataram, Lombok, NTB.

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *