MEMAHAMI ARSITEKTUR MASJID ADAT SASAK

Masjid kuno atau yang di Lombok disebut Masjid adat merupakan prototipe arsitektur tradisional yang tampaknya mengadopsi pola arsitektur atap tumpang masjid tradisional di Jawa pada awal perkembangan Islam. Secara arsitektur, bangunan ini memiliki unsur kaki, badan dan kepala, walaupun secara teknis hanya menggunakan bahan-bahan sederhana.

Kaki bangunan adalah pondasi yang terbuat dari yang diperkuat dengan pasangan batu yang disusun secara tidak beraturan pertimbangan untuk kekuatan, disamping juga untuk menambah keindahan. Jenis batu yang digunakan tergantung jenis ketersediaan batu yang ada dilingkungan sekitarnya. Tinggi pondasi bervariasi antara 1.20 m sampai dengan 1,50 m. Pondasi tanah ini sekaligus menjadi lantai masjid. Pada bagian kaki dilengkapi dengan tangga naik, ada yang menggunakan batu dan ada yang menggunakan tangga kayu.

Sketsa Konstruksi bangunan Masjid Adat oleh Lalu Agus Fathurrahman

Bagian badan adalah dinding dinding yang terbuat dari anyaman bambu yang kasar karena bilah anyaman yang tebal. Dalam bahasa Sasak dinding semacam ini disebut gempeng. Ada pula yang menggunakan bambu yang ditumbuk sedemikian rupa menjadi bilah-bilah yang menyambung sehingga tidak perlu dianyam. Tinggi dinding rata-rata 1,5 m sehingga tampak sangat pendek. Hal ini disebabkan pembentuk ruang dalam masjid adalah atap, sehingga atap pertama-tama merupakan bagian badan dari masjid kuno ini. Bagian badan bangungan ditopang oleh 20 buah tiang yang diikat dengan komponen gelampar dan jejait yang menggunakan sistem knockdown dan pasak kayu. Bagian bawah ada yang menggunakan umpak dari batu dan ada yang dilepas saja diatas tanah tanpa umpak.

Konstruksi tiang yang menopang bentuk bangunan, ditentukan oleh 4 tiang utama sebagai pusat pengembangan ruang. Keempat tiang tersebut berada di tengah-tengah ruang dengan jarak 2 meter. Membentuk bujur sangkar. Dari tiang tersebut menjulur usuk bambu sebagai kerangka atap yang dipasang rapat dengan sekitar 50 derajat, sehingga ruang di dalam masjid terasa lapang walaupun dengan dinding yang relatif pendek.

Atap terbuat dari alang-alang dan ada pula yang yang menggunakan bambu yang disebut dengan pantek. Rangkaian atap juga menggunakan ikatan dari bahan bambu (tereng tali). Atap ini menjurai melewati dinding, kira – kira hanya 1 meter diatas lantai sehingga orang memasuki masjid harus menunduk sebagai bentuk sikap penghormatan kepada masjid atau orang-orang didalamnya.

Untuk membangun bagian kepala yaitu atap tumpang, di atas tiang utama didirikan satu tiang diatas bentangan balok tarik yang saling menyilang secara diagonal. Tiang ini disebut sebagai tunjeng langit atau sangke langit (tiang penyangga langit). Tinggi tunjeng rata-rata 120 cm.

Dari pucuk tunjeng pada setiap sudut dipasangkan kayu rangka dan usuk bambu sejajar dengan atap induk. Pada bagian kepala diletakkan mahkota yang berbeda di tiap masjid.

Keseluruhan konstruksi ini memiliki makna: tunjeng langit atau sangke langit melambangkan Rasulullah SAW, keempat tiang utama melambangkan keempat sahabat dan kelima tiang melambangkan rukun Islam. Dua puluh tiang yang mendindingi masjid tersebut melambangkan sifat dua puluh.

Konstruksi tiang utama dan pola sambungan ke mahkota. photo oleh Lalu Agus Fathurrahman

Setiap masjid memiliki mihrab yang menunjukkan arah kiblat, dan disekitar masjid umumnya memiliki tanah lapang yang digunakan sebagai tempat penunjang acara-acara adat. Lokasi pembangunan masjid ini tampaknya menjadi pusat orientasi ruang sehingga umumnya berada di selatan kampung. Tetapi dalam kasus tertentu, jika kampung itu memiliki bangar atau kemaliq, penempatan masjid adat menjadi tidak meningkat. Ada yang menempatkan di bagian barat kampung dan adapula yang lebih tinggi, misalnya dalam kasus Masjid Bayan, Gunung Pujut dan Rambitan. Disamping adanya bangunan masjid biasanya ada bangunan penunjang  berupa bangunaan makam yang disebut kampu atau dapur (istilah sasak) yang sekaligus menunjukkan orientasi sosial masjid tersebut (MZF).

Sumber: disarikan dari buku “Direktori Masjid Adat di Lombok”, karangan Lalu Agus Fathurrahman. Penerbit Genius 2014. Mataram Lombok.

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *