TERIMA KASIH MANDALIKA

Padahal, mitologi adalah metode terbaik dan paling mungkin dilakukan di masa silam untuk mengajarkan suatu pengetahuan agar dapat dipahami oleh masyarakat yang tentu saja belum mengenal sistem pendidikan modern.” — Lalu Ari Irawan

Tulisan ini pernah diterbitkan harian Lombok Pos (Kamis, 1 Maret 2018)

Sepekan terakhir, masyarakat Sasak – khususnya di sepanjang pesisir selatan Pulau Lombok – bersuka cita menyambut datangnya hari yang pernah diucapkan oleh Putri Mandalika, yaitu tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak. Mereka tumpah ruah menuju area pantai terdekat untuk berbagi kebahagiaan, selain tentunya untuk menangkap nyale yang senantiasa setia mengiringi datangnya hari yang dijanjikan itu. Inilah pesta rakyat yang telah menjadi tradisi masyarakat Sasak dan masih terjaga hingga hari ini. Kecintaan mereka pada Mandalika dan harapan mereka akan hasil tangkapan nyale yang melimpah membuat mereka tak enggan meninggalkan rumah meski di tengah kegelapan.

Pada prinsipnya, tradisi bau nyale (menangkap nyale) ini adalah saat bagi orang Sasak untuk menjemput janji seorang putri yang begitu mereka cintai dan banggakan. Sederhananya, masyarakat Sasak memahami kemunculan nyale sebagai wujud pemenuhan janji sang putri yang memilih jalan terbaik demi rasa damai dan tenteram bagi setiap orang, yaitu jalan penyerahan diri kepada Allah SWT. Inilah jalan sufi yang secara jelas terlihat mendominasi bangunan kultural, sosial, dan antropologis masyarakat Sasak. Figur sang putri adalah acuan perilaku yang menggambarkan kepribadian yang patut diteladani. Kehadiran seorang wanita sebagai figur sentral menegaskan akan besarnya peran perempuan dalam tatanan masyarakat asli Pulau Lombok ini. Apakah ini juga berkaitan dengan fitur-fitur linguistik yang menggunakan kata inaq (ibu) dalam membentuk beberapa frase dalam bahasa Sasak, seperti inen paer, inen bangket, inen bale, inen beras, dan sebagainya. Perlu juga dilihat kaitannya dengan fakta bahwa tatanan sosial masyarakat Sasak tidaklah dibangun di atas konsep kekuasaan absolut dan maskulin melainkan kepemimpinan yang fungsional, egaliter dan cenderung feminin – meskipun belum banyak tulisan tentang Sasak yang mencoba mengeksplorasi Sasak secara mendalam dari perspektif ini.

Selain tahun politik bagi Provinsi Nusa Tenggara Barat, tahun ini bagi orang Sasak adalah tahun nyale dengan melihat hasil tangkapan nyale yang cukup melimpah dalam mangse nyale tahun ini. Masyarakat Sasak meyakini hasil tangkapan yang besar juga mengisyaratkan akan melimpahnya berkah dari Allah di tahun ini, yaitu diyakini sebagai tanda bahwa insya Allah panen petani akan berhasil memuaskan. Pada dasarnya, Bau Nyale adalah tradisi masyarakat agraris yang lokusnya terjadi di perairan pantai selatan Pulau Lombok. Kemunculan nyale – yang dikaitkan dengan kisah moksa (sirna) Putri Mandalika – dilihat sebagai berkah bagi masyarakat Sasak. Tradisi ini memberikan energi yang luar biasa yang mampu menggerakkan beribu-ribu manusia untuk berkumpul di beberapa daerah pesisir yang menimbulkan konsentrasi massa yang begitu massive. Tidak ada kekuatan lain yang mampu menggerakkan manusia sebanyak itu tanpa izin Allah Sang Pemilik Jagad Raya. Inilah hikmah pertama yang segera dapat dirasakan oleh masyarakat, yaitu sialturrahmi dan penyatuan diri menjadi Sasak yang terjadi secara alamiah melalui kontak yang syahdu dengan alam.

Kisah Putri Mandalika dan nyale merupakan sebuah mitologi yang masih terus hidup dari waktu ke waktu dan menjadi bagian tak terpisahkan dari peradaban Sasak hari ini. Bagi sebagian orang, mitologi adalah sebuah wilayah yang sama sekali tidak memuat fakta melainkan hanya sebuah fantasi yang diceritakan sebagai sebuah hiburan semata. Padahal, mitologi adalah metode terbaik dan paling mungkin dilakukan di masa silam untuk mengajarkan suatu pengetahuan agar dapat dipahami oleh masyarakat yang tentu saja belum mengenal sistem pendidikan modern. Mitos ini pula yang menjadi sarana menghantarkan pemikiran dan pengetahuan orang-orang terdahulu melintasi ruang dan waktu. Metode pembelajaran ini secara nyata menggambarkan bahwa leluhur orang Sasak dahulu telah memiliki kemampuan berpikir empiris, analitik, dan probabilistik. Secara lebih khusus, produk sastra lisan berupa folklore ini berperan sebagai media penghantar pengetahuan ilmu astronomi dan ekosistem tradisi yang telah berkembang di masyarakat Sasak.

Dalam latar hari ini, menghitung penanggalan dan kemunculan suatu fenomena alam tertentu (nyale) adalah dua hal yang berbeda namun memiliki keterkaitan yang jelas satu dengan lainnya. Bagi masyarakat, keduanya saling melengkapi dan digunakan untuk memvalidasi asumsi yang satu terhadap lainnya. Salah satu wujudnya adalah dikaitkannya kemunculan nyale dengan tanggal 20 bulan 10. Meskipun tak ada yang dapat menjamin akurasi kedua hal tersebut, tapi masyarakat telah meyakini bahwa keduanya tidak terpisahkan. Dalam sebuah diskusi dengan seorang profesor dari Jepang terungkap bahwa meskipun menggunakan teknologi yang mereka miliki, belum satu pun ada prediksi yang akurat akan perpindahan musim (Sasak: mangse yang terbagi menjadi 12) yang terjadi di wilayah mereka. Hal terbaik yang mampu mereka lakukan hanyalah membuat perkiraan-perkiraan dalam rentang matematis yang lebih longgar. Demikian halnya dengan perhitungan kemunculan nyale, khasanah yang juga menarik profesor tersebut jauh-jauh datang ke Lombok untuk mendalami ilmu astronomi tradisi milik masyarakat Sasak. Secara teori, dalam tubuh setiap makhluk hidup memiliki sistem jam biologis yang tertanam secara alamiah dan/atau melalui proses alam yang berulang yang berkaitan dengan kemampuan melakukan adaptasi ritme biologis masing-masing dan disinkronkan dengan revolusi bumi – teori yang memenangkan penghargaan Nobel di tahun 2017. Kepekaan mereka tetap terjaga karena insting itu akan sangat berkaitan dengan siklus kehidupan mereka yang juga dipengaruhi revolusi bumi terhadap benda langit lainnya. Semisal, perubahan suhu permukaan laut akan mendorong migrasi berbagai binatang laut yang juga berkaitan dengan perubahan arah angin serta akibat yang dibawanya terhadap vegetasi yang hidup di darat.

Di lain sisi, ilmu astronomi sangat bergantung pada pergerakan benda langit dan hubungannya terhadap bumi. Pergerakan benda langit ini lebih mudah diperhitungkan secara matematis sehingga akurasinya lebih mampu diformulasikan oleh kemampuan nalar manusia. Fenomena langit dan pergerakan bumi terhadapnya ini ternyata secara langsung (dalam tingkatan yang bervariasi) memengaruhi fenomena alam yang terjadi di bumi, meliputi kejadian di laut dan daratan. Namun, dapat dikatakan bahwa fenomena langit tersebut tidak mampu diformulasikan secara akurat oleh perhitungan matematis. Yang mungkin dilakukan, seperti disebutkan di atas, hanyalah perkiraan-perkiraan dalam rentang yang lebih longgar dibandingkan dengan perhitungan dalam matematika astronomi.

Hubungan alam semesta dan makhluk hidup di dalamnya inilah yang kemudian fokus kajian ilmu kosmologi (alam) maupun kosmologi antropologis. Dalam konteks masyarakat Sasak, keinginan yang kuat untuk menghubungkan kedua fenomena (astronomis dan ekosistem) dalam akurasi yang tinggi inilah yang terus menimbulkan perdebatan terkait perhitungan kapan bau nyale harus diselenggarakan oleh pemerintah untuk masyarakat, yang juga diharapkan akan menjadi daya tarik kuat bagi para wisatawan domestik dan mancanegara. Di masa terdahulu, ketika tradisi ini benar-benar hanya dipahami sebagai hal yang tradisional dan berada pada otoritas ‘adat’, perdebatan semacam ini tidaklah menjadi persoalan. Masyarakat memiliki ‘pakar’ mereka masing-masing dan dibarengi sikap awas yang terjaga atas perubahan-perubahan pada alam yang dikenali melalui berbagai fenomena alam, yaitu siklus ekosistem dan elemen-elemen di dalamnya. Misalnya, masyarakat menandai bulan 9 dengan kemunculan tengkong (jamur) dan kedie (capung). Dengan matematika (yang lebih longgar), nalar manusia hari ini hanya mampu mengira-ngira rentang (lama) kemunculan nyale yang dicatat dalam ilmu warige tradisional berlangsung selama 24 hari. Masyarakat tradisi menerapkan hari sekitar tanggal 20 bulan 10 sebagai titik awal (nyale tunggak) dan 15 bulan 11 sebagai titik akhir (nyale poto). Untuk itu, dalam menyikapi perhitungan nyale memerlukan kebijaksanaan segala pihak yang berkepentingan untuk melihat ini sebagai suatu otoritas masyarakat tradisional yang tidak harus ‘dipaksakan’ versi kebenarannya melainkan memberikan keleluasaan bagi masyarakat untuk mengambil keputusannya sendiri. Untuk itu, pemerintah yang ingin menjadikan tradisi ini sebagai sebuah core event bagi industri pariwisata harus membuat terobosan baru yang bisa menjadi solusi bagi semua pihak, terutama bagi masyarakat sebagai pewaris, pun bagi para pelaku industri jasa wisata yang ada di dalamnya. Penamaan bulan nyale, yang sebenarnya telah lama kami kampanyekan, bisa menjadi salah satu alternatif terobosan bagi pemerintah. Ini tentunya secara langsung akan memengaruhi skema penganggaran yang harus disusun pemerintah. Selain itu, pemerintah harus benar-benar menjaga agar pesta rakyat ini tidak melulu dimeriahkan dengan kegiatan-kegiatan yang identik dengan budaya pop, tapi juga harus memberikan ruang hidup bagi tradisi masyarakat. Seyogyanya, pemerintah harus mengembalikan otoritas tradisi pada masyarakat pemiliknya, tentunya dengan dukungan sepenuhnya dari sumber daya yang dikelola oleh pemerintah. Pada tahun-tahun yang akan datang, perbedaan versi perkiraan waktu kemunculan nyale nampak akan terus menjadi bahan perdebatan yang tak kunjung selesai. Terutama bila setiap pihak tidak mencoba memahami secara komprehensif permasalahan ini dan tidak mengambil pelajaran dari tahun ke tahun. Selain upaya kami melalui Lembaga Rowot Nusantara Lombok yang setiap tahunnya melakukan perhitungan yang seksama dan melibatkan masyarakat tradisi yang kemudian kami terbitkan dengan nama Kalender Rowot Sasak, banyak pihak lain juga terus berusaha memberikan kontribusinya. Misalnya, ketekunan salah seorang peneliti di sebuah perguruan tinggi di Mataram dalam membaca pola kemunculan nyale menggunakan data beberapa tahun terakhir yang menghasilkan sebuah rumus perhitungan adalah sebuah upaya yang patut diapresiasi. Tidak kurang juga usaha pemerintah daerah memfasilitasi pertemuan para tokoh ‘terbatas’ dari berbagai penjuru di daerah selatan Pulau Lombok guna memberikan rekomendasi mereka terkait prediksi waktu kemunculan nyale. Belum lagi masyarakat secara sendiri-sendiri juga melakukan hal serupa, yaitu dengan mengandalkan tokoh-tokoh masyarakat yang dianggap memahami persoalan penanggalan nyale. Semua hal tersebut adalah wujud kecintaan seluruh pihak akan keberadaan tradisi bau nyale yang sudah berlangsung secara turun-temurun sejak masa silam. Namun demikian, dirasa perlu untuk mengalokasikan daya dukung yang lebih besar guna menjembatani pertemuan seluruh pihak yang memiliki kepedulian akan khasanah kebudayaan masyarakat Sasak ini. Pelibatan yang lebih luas dengan sumber daya yang lebih kuat pastinya akan memberikan hasil yang lebih baik di masa yang akan datang. Di atas semua itu, melalui fenomena nyale, Allah kembali menunjukkan kebesaran-Nya, di mana setiap ikhtiar manusia tidak akan pernah lepas dari ridho-Nya. Selain itu, sebagai masyarakat Sasak, sudah sepantasnya kita ucapkan terima kasih kepada Putri Mandalika sang bunga indah dari Tonjang Beru. Selain memberikan inspirasi akan nilai-nilai yang luhur, sang putri juga telah menghadirkan energi pemersatu beribu-ribu kepala untuk saling bertemu dan berbagi saat-saat bahagia bersama di bawah kolong langit untuk mencari berkah bernama nyale. Wallahualambissawab.

Oleh: Lalu Ari Irawan

Penulis adalah Direktur Lembaga Rowot Nusantara Lombok, Dosen Pascasarjana UNDIKMA Mataram, dan sekarang menjabat Wasekjen BP Majelis Adat Sasak

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *