GERABAH:KEHIDUPAN KREATIF MASYARAKAT SASAK

Barang-barang tembikar yang lebih dikenal dengan nama “ Gerabah” menjadi salah satu bentuk buah karya dan sekaligus tradisi nenek moyang turun-temurun yang pernah ada, sampai sekarang masih dipertahankan sebagai suatu keahlian penduduk setempat yang telah diakui dunia. Dulu gerabah biasa digunakan untuk menyimpan beras, garam dan bumbu-bumbuan disamping digunakan untuk tujuan memasak. Pembuatan gerabah merupakan pekerjaan ibu dan anak perempuan, sebaliknya menjual dan membawa ke pasar adalah tugas ayah & anak lelaki. Namun seiring kemajuan zaman yang begitu cepat dimana sebagain besar ayah & anak laki-laki ambil bagian dalam pembuatan gerabah bekerja bersama-sama untuk memperoleh hasil yang maksimal dan kualitas yang bagus. Sebagai informasi, kita akan membahas tentang cara-cara pembuatan gerabah ini sebagai berikut:

  • Pencarian tanah liat

Butuh pemeriksaan yang teliti untuk memperoleh tanah liat terbaik yang sesuai dengan kualitas standar. Tanah liat yang bagus tidak harus berasal dari desa penghasil gerabah namun justru berasal dari desa terdekat. Tanah liat tidak serta merta langsung digunakan tapi butuh ketelitian yang mendalam dan memastikan kalau tanah liat tidak bercampur batu-batu kecil dan kotoran. Langkah pertama dalam proses pembuatan keramik adalah pengolahan tanah. Tanah liat dijemur sampai kering, sekitar tiga hari di bawah sinar matahari. Tanah yang sudah kering kemudian dihancurkan dan disaring. Tanah yang sudah disaring ini kemudian direndam ke dalam bak sampai terbentuk endapan tanah di dasar bak. Nah, endapan tanah inilah yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan keramik. setelah air yang berada di atasnya dibuang, tanah ini kemudian dicampur dengan pasir dengan perbandingan dua bagian tanah dicampur dengan satu bagian pasir, lalu diaduk hingga rata. Adonan yang sudah jadi disimpan di tempat yang sejuk dan ditutup dengan karung plastik, lalu diambil sedikit demi sedikit sesuai kebutuhan.

Seorang Ibu sedang mengubah adonan tanah liat menjadi bentuk Gerabah
  • Pengeringan

Setelah pemeriksaan, tanah liat dipotong-potong seperti kubus dan dijemur di bawah sinar matahari, butuh sekitar tiga atau empat hari. Bila potongan kubus-kubus tersebut sudah kering, kemudian ditumbuk jadi seperti adonan tepung yang lembut dan disimpan sebelum digunakan sebagai adonan. Langkah kedua adalah proses pembentukan. Adonan yang sudah disimpan diambil seperlunya dan ditaruh di atas alat putar untuk dibentuk sesuai dengan keinginan. Adonan yang sudah dibentuk lalu diangin-anginkan dan tidak dijemur di bawah sinar matahari langsung, selama kurang lebih dua hari. Yang paling menarik untuk disaksikan tidak ada alat-alat modern yang mendukung dalam pembuatan gerabah, tapi lapisan-lapisan tanah liat terus ditambahkan dari jumlah adonan asli sementara para pengrajin gerabah memutar benda/alat yang digunakan sampai terbentuk benda yang diinginkan, kendati bentuknya seperti sudah jadi namun sebenarnya belum selesai, lalu ada juga pengrajin yang ditugaskan khusus untuk mendekorasi setelah itu benda/pot yang dimaksudkan dibiarkan kering di tempat yang tidak terlalu banyak kena sinar matahari.

Sekelompok ibu sedang membuat gerabah dalam bentuk pot-pot kecil
  • Vernis dengan minyak kelapa

Gerabah yang sudah dipernis adalah kombinasi minyak kelapa dan dibiarkan kering sebelum di digosok dengan batu hitam atau alat-alat tradisisonal lainnya karena itu permukaannya kelihatan mengkilat dan lagit dikeringkan diterik sinar matahari dan itu butuh satu hari bahkan juga digosok halus di pertengahan siang hari untuk menambah kilauannya.

Seorang laki-laki sedang membentuk gerabah menjadi sebuah gentonng/kendi besar
  • Pembakaran

Proses selanjutnya adalah pembakaran. Produk yang sudah dijemur hingga kering lalu ditata rapih di tempat pembakaran. Gerabah yang sudah kering diletakkan di atas jaring-jaring besi yang sudah dianyam dan disangga dengan batu bata. Di bawah jaring itu diletakkan kayu untuk pembakaran. Di sela-sela produk dan dan bagian atas ditutup dengan jerami atau sampah kering. Benda/pot siap untuk dibakar and dikumpulkan kedalam oven terbuka yang ditutupi jerami padi yang dibakar selama lebih dari empat jam. Mulailah proses pembakaran gerabah. Gerabah dibakar selama kurang lebih dua jam. Untuk mengetahui apakah gerabah sudah matang atau belum, bisa dilihat dengan tanda warna gerabah menjadi merah. Api dibiarkan mati dengan sendirinya, lalu gerabah diangkat dari tempat pembakaran.

Proses pembakaran grabah untuk menjadikan lebih matang dan keras
  • Pewarnaan

Proses terakhir pembuatan gerabah adalah proses pewarnaan. Menariknya, proses pewarnaan di desa gerabah ini dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan dari alam. Jika menginginkan warna hitam polos, maka setelah pembakaran, gerabah dilumuri dedak secara merata. Setelah dedak dibersihkan, maka keramikpun akan menjadi hitam. Pekerjaan terakhir adalah memilih warna yang tepat, bila warna merah tua yang dikehendaki dilapisi dengan sari biji asam dan bila warna merah jentik yang dikehendaki, cukup jentikkan dengan sekam. Sedangkan untuk warna belang kecoklatan, pewarnaan menggunakan air kulit biji asam. Prosesnya sama, gerabah yang sudah dibakar dilumuri dengan air kulit biji asam selama beberapa saat. Setelah itu, gerabahpun akan berubah warna menjadi belang kecoklatan.

Seorang bapak sedang menambahkan warna pada gerabah yang dibuatnya agar terlihat lebih cantik dan menarik

Setelah warna dasar terpenuhi, langkah terakhir adalah finishing. Gerabah sebagai bahan dasar sangat mungkin dikombinasikan dengan berbagai bahan lainnya seperti kaca, batok kelapa, pecahan kulit telur, anyaman, dan berbagai bahan lain sesuai dengan kreativitas & kebutuhan. Motif yang dilekatkan pada gerabah juga bisa bermacam-macam, disesuaikan dengan pesanan pembeli. Untuk membuat berbagai motif ini, dilakukan melalui proses pengecatan.

Ada tiga desa penghasil gerabah yang terkenal di Lombok, sebut saja Banyumulek di Lombok Barat, Penujak di Lombok Tengah dan Penakak di Lombok Timur, masing-masing memiliki keunikan serta ciri khas masing-masing.

(Taufan Hadi Ahmad)

Sumber Foto:

https://www.google.com/imgres?imgurl=http%3A%2F%2F2.bp.blogspot.com%2F-VUAJO33_Uoc%2FVKwBGwTRvYI%2FAAAAAAAAMco%2FUg_eqQst_48%2Fs1600%2FIMG_7518.JPG&imgrefurl=https%3A%2F%2Fpellokilapenjelajah.com%2F2015%2F03%2Famazing-indonesia-wonderful-lombok-banyumulak-sukarara-sade-kuta-dan-batu-layar-2%2F&docid=liLsv8B4HTGm1M&tbnid=ivdCrXT8hdk4fM%3A&vet=12ahUKEwix4pSJv4LnAhWIbisKHTf2Cc04ZBAzKBwwHHoECAEQOw..i&w=1600&h=1066&safe=strict&bih=499&biw=1024&q=PROSES%20PEMBUATAN%20GERABAH%20SASAK&ved=2ahUKEwix4pSJv4LnAhWIbisKHTf2Cc04ZBAzKBwwHHoECAEQOw&iact=mrc&uact=8

https://gerbanglombok.co.id/about/page/2/

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *