BELANGAR: EKSPRESI EMPATI DAN BERBAGI

Hampir setiap kelompok masyarakat memiliki tradisi berkenaan dengan kematian. Mulai dari tradisi turut belasungkawa kepada pihak keluarga yang ditinggalkan, upacara pemakaman hingga pada berbagai tradisi pasca dilakukannya pemakaman. Pernyataan turut berbelasungkawa dari rekan, kerabat, tetangga adalah salah satu cara untuk menyampaikan empati pada keluarga yang ditinggalkan. Hal ini menunjukkan adanya ikatan sosial dalam masyarakat. Pada masyarakat suku Sasak tradisi melayat atau mengunjungi keluarga yang berduka karena kematian salah satu anggota keluarga mereka disebut dengan tradisi belangar.

Kaum perempuan Sasak sedang belangar membawa beras sebagai wujud empati

Saat ada seseorang meninggal dunia, salah satu anggota keluarga atau kerabat akan memberitahukan kepada kepala lingkungan atau kepala dusun atau pejabat desa lainnya untuk dilakukan pengumuman. Berita kematian tersebut disiarkan melalui masjid ataupun musala. Berita tersebut biasanya berisi nama almarhum serta tempat tinggal atau asal almarhum. Pengumuan tersebut sekaligus meruapak ajakan bagi seluruh warga desa bahkan warga desa tetangga untuk datang belangar ke rumah duka.

Berdasarkan pengamatan (observasi) dan pengalaman pribadi penulis, pada saat belangar para pelayat perempuan akan membawa beras atau gula dalam suatu wadah (baskom). Sejumlah perempuan dari pihak keluarga yang berduka cita akan menerima bawaan pelayat tersebut. Beras dan gula yang terkumpul tersebut nantinya dapat digunakan oleh keluarga yang berduka untuk keperluan zikiran (nyekeq, neluq, mituq, nyiwaq) guna mendoakan ampunan dan keselamatan bagi almarhum. Adapun pelayat pria biasanya membawa sejumlah uang untuk diberikan kepada keluarga almarhum/almarhumah.

Berdasarkan keterangan dari tetua yang memahami tradisi asli Sasak, H.M. Faesal, terdapat suatu tradisi unik dalam kegiatan belangar di beberapa kelompok masyarakat di Lombok. Guna menjamu tamu-tamu yang datang belangar, pihak keluarga yang berduka akan menyediakan makanan. Bahkan pihak keluarga yang berduka akan memotong hewan ternak mereka ataupun hasil kebun sebagai jamuan kepada para tamu. Adapun tamu yang diberikan jamuan makan biasanya adalah dari pihak keluarga yang datang dari tempat yang jauh. Selain itu jamuan juga diberikan kepada para tetangga yang ikut membantu prosesi pengurusan jenazah mulai dari memandikan, menyiapkan liang lahat, hingga pada prosesi pemakaman. Hal ini bukan berarti memberatkan pihak keluarga yang berduka, namun sebagai timbal balik atau bentuk rasa terima kasih pihak keluarga yang berduka atas kedatangan pihak keluarga serta tetangga yang telah banyak membantu.

(Zulfikri)

Sumber Informasi: H.M. Faesal, Inaq Sariyah, dan Murniati

Sumber Foto: https://www.google.com/imgres?imgurl=https%3A%2F%2F3.bp.blogspot.com%2F-RKS6g2bvSWI%2FVwSGinEhm1I%2FAAAAAAAAADw%2FPxvFxLh03i0bfnLgQI1GWpzIHx0jOGoRA%2Fs1600%2Faaa.jpg&imgrefurl=http%3A%2F%2Fbacafun.blogspot.com%2F2016%2F04%2Fbelangar-wujud-pendidikan-kearifan.html&docid=6Ko-wg8zKQDxWM&tbnid=UtH-w8DI6d-EBM%3A&vet=10ahUKEwibnpbo_e7mAhXDwzgGHfpZAjYQMwhPKAEwAQ..i&w=1296&h=972&safe=strict&bih=499&biw=1024&q=melayat%20pada%20suku%20sasak&ved=0ahUKEwibnpbo_e7mAhXDwzgGHfpZAjYQMwhPKAEwAQ&iact=mrc&uact=8

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *