PERANG TOPAT

Perang Topat adalah suatu upacara yang mencerminkan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas karunia yang telah diberikan dalam bentuk kesuburan tanah, cucuran air hujan dan hasil pertanian yang melimpah. Masyarakat setempat meyakini bahwa upacara ini akan memberi berkah dengan turunnya hujan. Sementara masyarakat yang lain menyebutkan bahwa upacara ini dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur atas hujan yang dikaruniakan oleh Yang Maha Kuasa bagi kemakmuran hidup mereka. Secara fisik di taman Lingsar terdapat dua bangunan yang melambangkan persatuan umat Hindu dan Islam, yaitu Kemaliq dan Pura. 

Para perempuan Sasak membawa topat sebagai bentuk simbolis akan dimulainya acara perang topat

Perang Topat salah satu event atraksi budaya masyarakat dengan latar belakang agama berbeda ini berkumpul di Pura Lingsar untuk melaksanakan tradisi perang topat. Warga mulai memadati pelataran Pura Lingsar saat musik tradisional gendang beleq berbunyi menyambut iring-iringan kebon odeq (kebun kecil) berisi hasil bumi dan topat (ketupat) Rombongan itu berkeliling bangunan Kemaliq di dalam kompleks Pura Lingsar. Ritual ini menandai perang topat akan segera dimulai.

Warga yang sudah terbagi menjadi dua kubu, yaitu umat Islam dan umat Hindu, saling melempar ketupat yang sebelumnya sudah diarak. Seperti perang pada umumnya, mereka saling serang menggunakan ketupat. Ritual inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan perang topat. Meski saling lempar, mereka tidak sedang bermusuhan. Justru sebaliknya, perang ini menjadi simbol perdamaian umat Islam dan Hindu di Lombok. Seusai perang, mereka membubarkan diri. Topat-topat yang sudah dilempar kemudian dipungut dan dibawa pulang oleh warga. Mereka percaya bahwa dengan menebar ketupat tersebut ke sawah atau ladang maka akan memberi kesuburan. Suparman Taufik selaku pemangku adat Sasak mengatakan, perang topat merupakan perang perdamaian antara umat Islam dan Hindu di Lombok yang telah berlangsung secara turun-temurun. “Antara Muslim dan Hindu di sini terjadi persatuan yang bagus, artinya saling menghormati dan menghargai antara satu dengan yang lain,” kata Suparman. Kesuburan Selain sebagai simbol keharmonisan antar umat beragama, perang topat pada zaman dahulu merupakan ritual meminta hujan bagi para petani di Lombok. Ketupat yang sudah dilempar dalam perang topat dipercaya warga sebagai pupuk di pertanian dan perkebunan. Oleh warga, ketupat tersebut disebar di sawah maupun digantungkan di pohon. “Digantungkan di pohon-pohon supaya buahnya lebat dan tanamannya menjadi subur terutama di sawah, itulah makna kelebihan perang topat,” kata Rusdi, Kepala Dusun Taman Lingsar.


sumberr https://regional.kompas.com/read/2016/12/14/08075451/tradisi.perang.topat.simbol.keharmonisan.islam.dan.hindu.di.lombok?page=all.

Sumber foto: http://www.wartantb.com/wp-content/uploads/2018/01/PERANG-TOPAT-696×392.jpg

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *