SENGKOL LIBATKAN PAKAR TELUSURI HARI JADINYA

(24/12) Sengkol. Pemerintah Desa Sengkol Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah berinisiatif untuk menetapkan hari jadinya. Kepala Desa Sengkol, Satria Wijaya Sarap menyatakan pentingnya hal ini bagi masyarakat. Dengan ini kami berharap kami di Sengkol akan menjadi warga desa yang menghargai sejarah dan pandai mengambil pelajaran dan manfaat darinya.

Untuk mencapai tujuan ini, Pemerintah Desa Sengkol membentuk Tim Penentuan Hari Jadi Desa Sengkol yang beranggotakan 18 orang warga Sengkol diketuai oleh Lalu Mukmin Jahar. Sebelumnya, tim ini telah melakukan konsultasi dengan Badan Pelaksana Majelis Adat Sasak guna mendapatkan rekomendasi tim pakar yang akan dapat mendampingi ikhtiar tersebut. BP MAS kemudian merekomendasikan beberapa nama yang hampir semuanya berasal dari jajaran pengurus MAS. Para pakar kemudian diminta memberikan materi dalam forum Focused Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan di aula Kantor Desa Sengkol dengan tema “Membongkar Sejarah Kelahiranku, Menentukan Akta Kelahiranku”.

Salah seorang narasumber, Dr. L. Ari Irawan menjelaskan tentang aspek metodologis penetapan hari jadi Desa Sengkol

Kegiatan FGD yang dimoderatori Sekretaris Tim, Lalu Edi Gunawan, memberikan kesempatan kepada seluruh narasumber yang hadir guna memberikan paparan yang akan dijadikan acuan bagi masyarakat dalam sesi FGD. Secara berturut-turut, materi disampaikan oleh Drs. H. L. Agus Fathurrahman, Ir. L. Damanhuri, Dr. Jamaluddin, Dr. L. Ari Irawan, dan Ahmad Fauzan, M.Si. Pemateri pertama memberikan orientasi pentingnya mengelola sejarah yang dilanjutkan dengan berbagai informasi kesejarahan daerah dan nasional. Pemateri ketiga, akademisi UIN Mataram, Jamaluddin berbicara tentang pilihan-pilihan tahun kelahiran Desa Sengkol berdasarkan beberapa fakta sejarah yang ada, termasuk di antaranya berdirinya Masjid Kuno Gunung Pujut, Surat Resmi Pemerintah Belanda tentang pembentukan pemerintahan Desa Pujut, dan Surat resmi tentang pemerintahan desa pasca berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemateri selanjutnya dari UNDIKMA Mataram, Lalu Ari Irawan menyampaikan metode yang disarankan dalam upaya menyepakati tahun kelahiran Desa Jonggat, dengan juga mempelajari upaya-upaya serupa yang pernah dilakukan di daerah lain. Materi penutup disampaikan oleh antropolog UNU NTB, Fauzan yang menyampaikan pentingnya tradisi lisan yang ada guna mencari informasi terkait kesejarahan.

Ketua Badan Pelaksana Majelis Adat Sasak (BP MAS), Drs. L. Bayu Windia, M.Si. mengungkapkan kegembiraannya atas inisiatif Pemerintah Desa Sengkol ini. Ia dengan senang hati membantu dengan merekomendasikan nama-nama yang dapat diandalkan guna mendampingi Pemerintah Desa Sengkol. Melihat animo masyarakat yang hadir di aula hari itu, Bayu optimistis hal ini akan segera terwujud dan akan membawa masyarakat Sengkol ke level baru membangun desanya, yaitu membangun kesadaran sosio-kultural, pungkasnya.

Penyampaian Ketua BP MAS, Drs. Lalu Bayu Windia, M.Si.

Di akhir sesi, tim pakar sepakat menawarkan tiga opsi untuk didiskusikan lebih lanjut oleh tim yang dibentuk Pemdes Sengkol. Opsi tersebut adalah menetapkan tahun berdasarkan tahun berdirinya Masjid Kuno Gunung Pujut, Stadblat Belanda 31/1898, dan opsi terakhir menawarkan tahun 1951 dengan Surat Keputusan berdirinya Desa Sengkol definitif sekaligus pemekaran beberapa desa baru. Akan ada upaya penulisan sejarah setelah penetapan tahun lahirnya Desa Sengkol, imbuh ketua tim yang akrab dipanggil De Agong. Ditambahkan Edi setiap orang yang pernah menjadi pemimpin di desa itu akan kita abadikan foto atau lukisannya di dinding aula desa sehingga akan tetap dikenang jasa-jasa mereka. Bahkan, akan kami dorong penulisan buku sejarah Desa Sengkol untuk dapat dimanfaatkan di sekolah-sekolah yang berada di wilayah kami, imbuhnya (ial).

Tokoh-tokoh masyarakat dan seluruh kepala dusun di Desa Sengkol hadir dalam kegiatan FGD penentuan hari jadi Desa Sengkol

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *