DIALEK NGENO NGENE BAHASA SASAK

Dialek ngeno ngene merupakan dialek yang digunakan oleh sebagian penduduk Gumi Sasak di Pulau Lombok dan merupakan salah satu dari empat dialek yang disepakati sebagai Bahasa umum oleh para peserta Seminar Ejaan Bahasa Sasak  yang diadakan di kantor wilayah departemen pendidikan dan kebudayaan Nusa Tenggara Barat, Mataram 1999.

Azhar (1996: 1) menjelaskan bahwa dialek ngeno-ngene yang sering disebut juga dialek Selaparang yang digunakanĀ  oleh sebagian besar masyarakat Sasak di Pulau Lombok. Dialek ngeno-ngene adalah salah satu dari empat dialek bahasa Sasak yang disepakati sebagai varian standar oleh para peserta Seminar Ejaan Bahasa SasakĀ  yang diadakan di kantor wilayah departemen pendidikan dan kebudayaan Nusa Tenggara Barat, Mataram di tahun 1999.

Dialek ngeno ngene diakui sebagai variasi bahasa Sasak yang lazim digunakan oleh masyarakat Sasak berdasarkan alasan sebagai berikut: 1) dialek ini dipahami oleh penutur dialek-dialek lainnya atau dipahami oleh seluruh masyarakat Sasak, 2) dialek ini dipakai sebagai alat komunikasi oleh penutur antardialek, 3) Raja selaparang, raja yang paling berkuasa di Lombok pada zaman dahulu, menggunakan dialek ngeno ngene dalam berkomunikasi, 4) bahasa Sasak yang digunakan di dalam lontar ialah bahasa sasak dialek ngeno ngene yang bercampur dengan bahasa dengan bahasa Jawa dan bahasa Bali sehingga disebut bahasa Sasak reramputan, 5) bahasa Sasak dialek ngeno ngene pernah diajarkan di sekolah rakyat (SR) pada tahun 1940an. Buku bacaan yang dipakai ialah Galang Bulan dan Sate Sisoq karangan Lalu Mesir. Kedua buku ini ditulis dalam dialek Sasak ngeno ngene, 6) akhir-akhir ini sering diadakan lomba pidato dan lomba mengarang dalam bahasa Sasak. Setiap peserta dibolehkan menggunakan dialek sendiri-sendiri. Namun, pada praktiknya, para peserta berusaha sedapat-sedapatnya menggunakan dialek ngeno ngene, 7) dialek ini juga digunakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI), terutama pada siaran pedesaan dan drama radio, 8) dialek ngeno ngene digunakan oleh Tuan Guru Pancor (Zainuddin Abdul Madjid), salah satu orang yang paling berpengaruh di Lombok, dalam memberikan pengajian (ceramah tentang agama Islam), 9) berpidato dalam bahasa Sasak lebih baik atau lebih mudah menggunakan dialek ngeno ngene (informasi dari H. Jalaludin Arzaki), 10) wilayah pemakaian dialek ngeno ngene lebih luas jika dibandingkan dengan wilayah yang memakai dialek-dialek lainnya, dan 11) dialek ini memiliki kaidah-kaidah yang mantap dan bersifat terbuka.

Aridawati ida ayu dkk, 1995. Struktur Bahasa Sasak. Ousat pembinaan dan pengembangan bahasa departemen pendidikan dan kebudayaan Jakarta. 1997

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *