Presean

Presean merupakan adu ketangkasan yang sangat populer di Gumi Sasak – Pulau Lombok. Meski cenderung berbahaya, presean dipercaya oleh masyarakat Sasak dapat mengundang hujan.

Peresean pada dasarnya dulu adalah adu ketangkasan dan peresean ini dulu terjadi manakala terjadi paceklik yang berkepnjangan/ musim panas yang berkepanjangan maka diadakanlah pelengkungan “istilahnya” pelengkungan itu identik dengan peresean. (1) peresean pada zaman dahulu tidak seperti sekarang, dahulunya alat yang digunakan itu tidak hanya rotan saja, di ujung rotan tersebut akan di taruhkan gumpalan yang bahannya berasal dari aspal/ pecahan beling lalu di aduk dengan ketan itulah yang di buat menjadi alat untuk mengenai sasaran. Sehingga peresean dahulunya sangatlah berbahaya, karena bisa mempertaruhkan nyawa.

Sejarah

Peresean sudah ada sejak abad keenam belas pada zaman kedatuan sebelum selaparang pra islam. (1) Dahulu kala peresean ini dijadikan sebagai ritual budaya, yang dimana di tujukan untuk memanggil hujan di saat” pancekelik” atau musim panas berkepanjangan. (1) Akan tetapi seiring berjalannya waktu kini peresean bukan lagi sebagi ritual, melainkan menjadi sebuah event. Permainan ini sudah terkenal tidakhanya di kenal warga Lombok saja akan tetapi daerah lainpun sudah banyak yang mengenal peresean. Bahkan peresean sudah diakui oleh badan dunia menjadi warisan budaya tak benda.(1)

Cara permainan                                                                        

Secara umum peresean biasanya di mainkan oleh dua orang laki-laki. Mereka bermain untuk mengadu kekuatan satu sama lain. Masing-masing pemain di fasilitasi dengan alat bertarung. Alat yang di gunakan untuk bermain peresean ini terbuat dari rotan yang dimana rotan inilah yang berfungsi sebagai alat untuk memukul. Selain menggunakan rotan alat yang di gunakan adalah kulit kerbau, kulit kerbau ini di gunakan sebagai bahan membuat perisai. Saling adu kekuatan satu sama lain dengan mengandalkan kedua alat tersebut. Ronde pada permainan ini biasanya ada 3 sampai 5 ronde, dengan aturan pemain harus bisa memukul seluruh bagian badan mulai dari pinggang hingga atas. (2) Siapa yang mendapatkan bekas pukulan palig banyak di badan maka dia kalah. Karena pemenang pada permainan ini di lihat dari berapa banyak bekas pukulan yang di dapatkan.

Biasanya peresean di gelar di area yang luas sehingga bisa memicu banyak penonton. Di hari tertentu pada perayaan- perayaan seperti acara kemerdekaan peresean sering kali juga di gelar, itu bertujuan menarik minat masyarakat untuk menonton. Semakin banyak masyarakat yang menonton maka itua kanmembuat kualitas dan ketenaran permainan inisemakin bagus. Tidak hanya  akan di kenal di Lombok saja bahkan akan di kenal juga di luar Daerah maupun luar Negeri. Semakin terkenal maka akan mengurangi tingkat kekhawatiran akan punahnya permainan tradisional (Dian N Isroyana).

SUMBER

1. Sadarudin. 2019. Permainan Tradisional Peresean. Wawancara oleh Dian Novia Isroyana pada Jum’at 22 November 2019 pukul 16: 30 WITA.

2. Hans Bahanan pada 21 November 2019, 15: 23 WITA

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *