Makam Serewa

Berlokasi di atas bukit menjadikan Makam Raja Pejanggik atau Makam Serewe suci dan menjadi semain mistis dengan keberadaan sumur kecil di dalamnya yang dipercaya dapat memperlihatkan kebaikan seperti rejeki, jodoh, dan keselamatan.

Makam Serewa atau Komplek Makam Raja Pejanggik merupakan kawasan makam raja dan keluarga dari kerajaan Pejanggik yang pernah berkuasa sekitar abad ke XVI di Lombok Tengah.  Situs makam ini terletak di Dusun Serewa, Desa Pejanggik, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah. Lokasi komplek makam sendiri berada di atas bukit, dimana sistem pelokasian makam yang berada di tempat yang tinggi dipengaruhi oleh tradisi masyarakat pada saat itu yang sudah ada sejak zaman Hindu. Masyarakat mempercayai bahwa pada tempat yang tinggi adalah tempat yang suci, dan disitulah tempat bersemayamnya roh nenek moyang dan para dewa. Dengan memakamkan tokoh-tokoh besar di tempat tersebut juga dapat diartikan sebagai penghormatan tertinggi dari yang masih hidup kepada mereka yang telah meninggal. Makam Serewa memiliki luas 375 m2 yang terdiri dari 2 halaman yakni halaman inti dan halaman luar berupa terasering. Makam ini dikelilingi oleh pagar tembok dari susunan batu alam yang berdenah segi empat dan puluhan pohon kamboja yang diperkirakan sudah ada sejak makam dibangun.  

Berdasarkan hasil inventaris yang dilakukan oleh BPCB Bali pada tahun 2012 diketahui bahwa makam Serewa merupakan situs cagar budaya berupa makam  dimana pada komplek makam ini terdapat 13 struktur makam dan 1 buah sumur. Makam utama di komplek makam serewa merupakan makam Raja Pejanggik terakhir. Makam ini ditandai dengan batu nisan berbentuk polos dan dilengkapi dengan balai pelindung dengan pajang 4,20 cm dan lebar 3,35 cm. Kemudian terdapat makam permaisuri dan pengasuh yang ditandai dengan 3 buah batu nisan. Makam lainnya ialah makam pengikut Raja Pejanggik. Terdapat pula sumur kecil dengan kedalaman 86 cm dan berdiameter 27 cm. Sumur ini dipercaya oleh masyarakat setempat dapat memperlihatkan kebaikan seperti rejeki, jodoh, kesehatan dan kebaikan lainnya. Situs cagar buadaya ini masih sering dikunjungi oleh masyarakat khususnya pada hari – hari besar islam seperti idul fitri dan pada saat bunga pohon Dengah muncul yang bertepatan pada bulan kedelapan penanggalan Sasak. Pada waktu tersebut masyarakat Sasak khususnya masyarakat Pejanggik akan mengadakan “Perang Topat” di kawasan makam (Niken Diyah Ayu Lukitosari)

Referensi:

https://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/public/object/detailcb/PO2016060800002/makam-serewa. (Diakses pada 01 Desember 2019 pukul 20.30 WITA)

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/kegiatan-konservasi-di-makam-serewa/.( Diakses pada  01 Desember 2019 pukul 20.30 WITA)

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbbali/perang-timbung-masyarakat-lombok/.( Diakses pada  02 Desember 2019 pukul 13.30 WITA)

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *