Makam Nyatok

Makam keramat Wali Nyatok yang berada di Lombok Tengah tepatnya di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut hanya bisa dikunjungi peziarah makam pada hari Rabu. Ada apakah dengan hari Rabu dan kenapan peziarah harus melepaskan alas kaki ketika mau memasuki makam tersebut?

Makam Nyatok ialah makam kuno dari salah satu pemuka agama yang ada di Lombok yang bernama Abdullah Akhaddad atau masyarakat Lombok mengenalnya dengan nama Wali Nyatok. Makam ini berlokasi di sebuah bukit di wilayah selatan Lombok Tengah tepatnya di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut. Di dalam komplek makam ini terdapat 2 makam inti yaitu makam utara dan makam selatan. Makam utara merupakan makam sang wali, sedangkan makam selatan ialah makam pengikut setia Wali Nyatok. Makam inti ini dikelilingi oleh pagar atau dolken yang dibuat dari berbagai jenis kayu, seperti kayu timus, kayu kunyit, kayu tanjung gunung, dan ipil yang panjangnya antara 1,50 meter sampai 2 meter sedangkan ujung dari pagar kayu ada yang di buat runcing dan ada yang tidak. Selain kedua makam inti, di kawasan makam ini juga terdapat bangunan gedeng dan sebuah kolam. Gedeng ialah tempat pertemuan. Dalam komplek ini terdapat 2 bangunan gedeng yang diperkirakan usianya sama dengan Masjid Kuno Rembitan, yaitu Gedeng Daya dan Gedeng Lauk. Gedeng Daya hanya boleh ditempati oleh peziarah laki-laki, sedangkan Gedeng Lauk digunakan oleh peziarah perempuan. Kedua gedeng tersebut berbentuk persegi empat dimana bangunanya  tidak lurus menghadap ke arah barat, melainkan agak sedikit miring ke kanan. Walaupun tidak lurus mengarah ke kiblat, tetapi lebih mendekati ke arah tersebut, sehingga selain digunakan sebagai tempat beristirahat, gedeng dapat pula di gunakan sebagai tempat sholat bagi peziarah, berzikir maupun tahlilan.

Di sebelah kanan Gedeng Daya yang bertepatan dengan depan pintu masuk makam terdapat sebuah kolam kering terbuat dari batu andesit atau batu kali dengan kedalaman 1.90 meter dan berdiameter 3.50 meter. Kolam tersebut memiliki 5 anak tangga untuk turun ke bawah, di perkirakan pada awal berdirinya makam, kolam tersebut berisi air yang dapat digunakan untuk mengambil air wudhu atau mencuci kaki sebelum atau sesudah memasuki makam. Dalam berziarah ke makam ini, terdapat beberapa tradisi yang harus dipatuhi oleh peziarah, seperti waktu berziarah, melepas alas kaki saat akan memasuki kawasan makam inti, dan daerah yang boleh dimasuki oleh peziarah. Tradisi pertama ialah peziarah hanya boleh berziarah pada hari rabu, hal ini dikarenakan kepercayaan warga setempat. Diceritakan pada masa hidupnya, Wali Nyatok hanya menerima orang datang menemuinya pada hari rabu, sehingga atas dasar tersebut warga menetapkan waktu ziarah yang hanya boleh dilaksanakan pada hari rabu. Tradisi kedua ialah melepaskan alas kaki ketika akan memasuki makam inti. Masyarakat setempat memandang makam adalah tempat yang suci seperti masjid, oleh karena itu harus diperlakukan sama seperti masjid. Tradisi terakhir ialah tempat yang boleh di masuki peziarah. Makam inti di komplek Makam Nyatok ini selain dikelilingi oleh pagar kayu juga di kelilingi oleh pagar kawat di dalamnya sebagai pembatas. Peziarah hanya bisa memasuki makam inti hingga pembatas tersebut, yang diperbolehkan masuk melewati pagar pembatas hanyalah kerabat atau orang kepercayaan Wali Nyatok sendiri (Niken Diyah Ayu Lukitosari).

Referensi:

Armini, I Gusti Ayu. 2016. Tradisi Ziarah dan Berkaul pada Makam Keramat di Lombok Nusa Tenggara Barat. Bali: Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali.

http://escaperrzz.blogspot.com/2014/07/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html#.XeevG4MzbIU. (Diakses pada 04 Desember 2019 pukul 21.00 WITA)

Jamaluddin. 2019. Jejak-Jejak Arkeologi Islam di Lombok. Mataram: Sanabil.

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *