SARASEHAN NASIONAL KEARIFAN LOKAL 2019

Peserta Sarasehan Menyanyikan Mars Pelopor Perdamaian

Majelis Adat Sasak utus pegiatnya tergabung dalam rombongan Dinas Sosial Provinsi Nusa Tenggara Barat guna menghadiri Sarasehan Nasional Kearifan Lokal 2019 yang diadakan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia 3-6 Desember 2019 di Hotel Grand Mercure Mirama Darmo Surabaya. Sarasehan tahun ini menghadirkan perwakilan dari 24 provinsi se-Indonesia dan 12 tim kesenian dari 12 provinsi yang telah mendapatkan bantuan dana pengembangan kegiatan kesenian dari Kemensos di tahun anggaran 2019 serta utusan dari lembaga-lembaga binaan Kemensos.

Lalu Kutubihi, Dinsos NTB

Pemimpin rombongan NTB, Lalu Kutubihi dari Dinas Sosial Provinsi Nusa Tenggara Barat menyatakan tim yang berangkat berasal dari unsur tokoh adat, tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh pemuda, dan pemerintah daerah. Tahun ini, sarasehan mengangkat tema “Sama itu biasa, berbeda itu luar biasa”, imbuhnya. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ajang bagi para tokoh NTB untuk bertukar gagasan dan pengalaman di bidang sosial pada taraf nasional.

Pose Bersama Menteri Sosial RI, Juliari P. Batubara

Menteri Sosial Republik Indonesia, Juliari P. Batubara secara resmi membuka kegiatan pada hari Rabu, 4 Desember 2019. Dalam sambutannya, Juliari menyampaikan betapa bangsa luar kagum dengan Indonesia yang mampu berdiri tegak di tengah kemajemukan yang begitu terlihat, baik dalam hal budaya, bahasa, maupun agama. Untuk menjaga kondisi persatuan dalam kemajemukan ini, ia menghimbau agar seluruh komponen bangsa tetap saling menjaga semangat persatuan dengan tetap setia pada Pancasila sebagai ideologi bangsa. Menteri yang akrab dipanggil Ari ini menceritakan bahwa meskipun lama hidup di negara orang, tidak sedikitpun ia pernah melupakan keindonesiaannya. Seluruh peserta dan panitia termasuk Menteri Sosial nampak mempesona mengenakan pakaian adat masing-masing pada kegiatan pembukaan.

Dalam sesi utama, beberapa narasumber nasional memberikan pengayaan pandangan kepada seluruh peserta. Salah satunya Romo Benny Susetyo selaku Dewan Pengarah BPIP Republik Indonesia. Beliau menyampaikan materi berjudul “Memperkuat Toleransi Beragama Melalui Nilai-Nilai kearifan Lokal dalam Membangun Karakter Bangsa”. Peserta aktif merespon seluruh ceramah para pemateri.

Sesi foto bersama Dirjen Linjamsos Kemensos RI, Harry Hikmat

Hari ketiga diisi dengan diskusi terfokus yang dibagi ke dalam tiga kelompok. Masing-masing kelompok menyusun dokumen hasil diskusi berisi isu-isu sosial yang strategis beserta usulan strategi menghadapinya. Tim NTB mengusulkan 7 isu strategis meliputi melemahnya peran pranata adat di masyarakat, munculnya paham ultra-nasional yang cenderung mengarah kepada ekstrimisme, lemahnya fungsi kontrol sosial di masyarakat, memudarnya budaya gotong royong, terbatasnya sumber literasi kebudayaan bagi generasi millenial, melebarnya jarak sosiologis di masyarakat, dan ancaman disintegrasi oleh paham ekstrimisme kanan dan kiri. Tim juga mengajukan usulan strategi penanganannya guna menangkal dan mencegah dampak yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Diskusi Terfokus membahas isu startegis dan strategi pemecahannya

Sebelum sarasehan ditutup oleh Direktur PSKBS, Direktorat Jendral Linjamsos, Kemensos RI, para peserta menikmati pagelaran kesenian dari 12 provinsi penerima bantuan dana pembinaan dari Kemensos RI tahun 2019. Lalu Abdurrahim, tokoh agama utusan NTB, berharap pada sarasehan berikutnya NTB mendapatkan kesempatan untuk tampil sebagai pengisi acara pagelaran kesenian. Tentunya juga mendapatkan dana pembinaan dari Kemensos RI seperti tahun ini, tandasnya.

Pose bersama penari asal Jawa Tengah
Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *