NTB Ranking 5 IPK Nasional

Sebagai bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Barat, masyarakat Sasak harus bangga membaca rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia tentang studi IPK (Indeks Pembangunan Kebudayaan) berdasarkan provinsi di Indonesia. NTB berada di papan atas menduduki peringkat ke-5 secara nasional. Studi ini menggunakan kerangka pikir “Cultural for Development Indicators Suite” (CDIs) di mana pemetaan 40 indikator kandidat yang terbagi dalam 8 dimensi dilakukan secara trilateral, yaitu Kementerian PPN/Bappenas, Kemendikbud, dan BPS.

Seluruh masyarakat Nusa Tengara Barat berbangga dengan capaian Indikator Pembangunan Kebudayaan (IPK) NTB di peringkat ke-5 nasional.

Secara nasional, Dimensi Ketahanan Sosial Budaya menempati peringkat tertinggi dengan indeks sebesar 72,84. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan suatu kebudayaan dalam mempertahankan dan mengembangkan identitas, pengetahuan, serta praktik budayanya yang relevan yang didukung oleh kondisi sosial dalam masyarakat cukup baik. Sedangkan dimensi Ekonomi Budaya secara nasional menempati peringkat terbawah dengan skor indeks sebesar 30,55 yang berarti perlu didorong optimalisasi potensi kebudayaan Nusantara untuk meningkatkan perekonomian nasional. Sangat relevan dengan pembahasan Raperda Ekonomi Kreatif inisiatif DPRD NTB yang belum lama ini dibahas dan diuji publik. Majelis Adat Sasak, dalam kesempatan tersebut diwakili Wasekjen Lalu Ari Irawan ikut berkontribusi aktif memberikan pandangan kritis terhadap raperda tersebut. Ia terutama menyoroti perlindungan hak masyarakat adat yang menjadi salah satu sumber berbagai komuditas bisnis berbasis ekonomi kreatif, terutama yang berkaitan dengan industri pariwisata. Sudah seharusnya masyarakat adat dihargai atas segala pemanfaatan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) komunitasnya, usul Ari di hadapan tim perumus dan pembahas. Ini bukan tentang Sasak saja, tapi seluruh masyarakat adat di provinsi ini, tegasnya.

Lalu Ari Irawan (Wasekjen MAS) minta pemerintah menghargai HAKI masyarakat adat di NTB

Sebagai Peringkat ke-5, dengan capaian IPK sebesar 59,92, NTB tidak terpaut jauh dari Bengkulu yang berada pada posisi ke-4 (59,95) dan Jawa Tengah di peringkat 3 (60,05). Ketua MAS, Lalu Bayu Windia menyatakan optimismenya untuk meningkatkan ranking IPK NTB pada tahun-tahun mendatang dengan melihat detail tiap-tiap indikator serta sub-item yang digunakan. Hal ini tentunya akan dapat terwujud melalui sinergi yang baik dan produktif antara pemerintah, masyarakat, lembaga kajian, perguruan tinggi, sekolah, sanggar kesenian/budaya, industri, dan seluruh stakeholder kebudayaan. Hal yang akan sejalan dengan orientasi pembangunan industri pariwisata yang kuat dan tangguh serta berkontribusi besar pada perekonomian regional dan nasional.

Dalam sebuah diskusi yang digagas anggota tim Mediator MAS (DIMAS) di kediamannya (14/11), Bayu juga mengajak semua pihak untuk bersama-sama turut serta dan aktif memajukan khasanah kebudayaan kita agar dapat mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat, tandasnya.

NTB di ranking 5 IPK Nasional (sumber: rilis BPS RI, 2018)

Dengan capaian menggembirakan ini, wacana Pemerintah Provinsi NTB untuk mendirikan OPD baru yang khusus mengurusi kebudayaan mungkin saja terwujud. Tentunya, OPD baru ini dapat menjawab harapan warga NTB agar capaian IPK NTB dapat terus meningkat, baik secara kualitas pada masing-masing dimensi indikator maupun peringkatnya secara keseluruhan (ial).

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *