PRESEAN – Stick Fighting

Oleh: Drs. Lalu Bayu Windia, M.Si.

Masyarakat Sasak memiliki banyak ragam seni, salah satu yang sangat menariknya yaitu Peresean. Seni peresean mempertontonkan ketangkasan, kedigdayaan seorang pendekar (sasak: pepadu).  Kesenian ini dilatar belakangi oleh pelampiasan rasa emosional para Raja dimasa lampau ketika menerima kemenangan dalam perang tanding melawan musuh-musuh kerajaan. Disamping itu peresean sebagai arena para pemain / pelaku  untuk  menguji ketangkasan, ketangguhan dalam bertanding.

Alat yang dipakai dalam peresean ini antara lain: masing-masing pepadu/pemain yang akan bertanding membawa sebuah perisai (sasak: ende) yang dipegang dengan tangan sebelah, dan pada tangan yang sebelah lagi memegang alat pukul yang terbuat dari sebilah tongkat rotan. Are…

Bernilai besar. Penonton yang baru menyaksikan presean ini,  kadang kala mempunyai pemahaman bahwa para petarung itu  sedang bertarung untuk mendapat hadiah yang sangat tidak sebanding dengan kekerasan yang bakal menimpanya, bahkan akan berakhir dengan luka berdarah. Presean adalah permainan atas dasar hobi. Ada juga yang mengecam presean sebagai jenis permainan yang terlalu kejam dan tidak manusiawi. Dalam sejarah berlangsungnya permainan ini, tidak pernah tercatat bahwa para petarung itu sampai meninggal dunia, tidak pula hingga menderita luka berat. Berbeda dengan pertandingan tinju yang menjadi tontonan kesukaan yang umum, kita tidak mengecamnya sebagai kejam dan tidak manusiawi, meskipun faktanya, korban meninggal dunia dalam tinju tercatat sering berlangsung, kalau tidak meninggal dunia, bahkan sampai menderita parkinson  seperti penyakit yang sekarang diidap oleh petinju legendaris Muhammad Ali.  Meskipun peraturan menentukan bahwa pertandingan akan berlangsung lima (5) ronde tetapi bisa pula pertandingan akan diakhiri oleh pekembar tengaq apabila salah satu petarung mengeluarkan darah,  disebut bocor( blood-out?) atau karena salah satunya menyerah, yang ditandai dengan cara  menengadahkan ende. Ini juga akan diikuti oleh sorai penonton. Apa pula, kehadir musik yang ditabuh rancak dari kelompok pemusik yang khusus  pada arena ini, menambah semarak suasana. Musik menyemangati petarung dan menggembirakan penonton. Alat musik presean ini terdiri dari : 1) Gong; 2) sepasang kendang; 3) Rincik / simbal; 4) Kajar; dan  5) Suling: alat ini tak ubahnya seperti alat / instrumen wayang.

Paling menarik dari presean yang kadang dicemooh sebagai jenis tontonan tidak humanis adalah: tidak pernah ada dari para petarung itu yang menyimpan dendam (walaupun kalah dengan mengeluarkan darah/blood-out). Juga tidak pernah ada pertandingan presean yang berlanjut diluar arena. Tidak pernah. Yang banyak terjadi justeru, diantara mereka kemudian saling mengenal dan menjalin persahabatan, sehingga tidak akan mungkin terjadi pertarungan kedua.  Begitu pula, tidak pernah ada perkelahian kelompok yang dipicu oleh soal kalah atau menang dalam arena presean. Juga tidak pernah. Berbeda dengan sepak bola yang ricuh antar pemain, antar supporter, antara pemain dengan wasit, antara pengurus pun juga. Presean adalah salah satu olah raga tradisional masyarakat sasak yang sangat menarik. Dalam presean setidaknya meliputi tiga prinsip, yaitu prinsip Wirasa (sportifitas), Wirama (seni, karena bertanding dengan penuh sukacita, sehingga para petarung melakukan tari-tarian),  Wiraga (terkait kesamaptaan).

Bagikan ke Media Sosial anda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *